Terapi Intravena [ Panduan Lengkap Pemberian Obat Melalui Pembuluh Darah Vena ]

Terapi intravena (IV) dikenal sebagai cara tercepat untuk memberikan segala jenis cairan atau obat-obatan ke tubuh, karena menghasilkan penyerapan bioavailabilitas hingga 100%.

Karenanya, terapi intravena ini menjadi sangat krusial dalam perawatan pelayanan kesehatan saat ini.

Lantas, apa yang di maksud dengan terapi intravena? Bagaimana terapi tersebut dilakukan? Apa saja yang bisa diberikan dan kenapa perawat harus menguasai terapi intravena ini?

Agar anda memahami terapi ini dengan baik dan benar, silahkan lanjutkan membaca. Karena dalam panduan ini, anda akan mempelajari terapi intravena secara lengkap, mudah di mengerti dan tentunya bersumber dari yang terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan.

Apa Itu Terapi Intravena?


Terapi Intravena adalah tindakan yang dilakukan dengan cara memasukan cairan, elektrolit, obat dan atau nutrisi kedalam tubuh secara parenteral melalui pembuluh darah vena.

Terapi ini umumnya disebut sebagai terapi infus atau infusan dan dapat dilakukan dengan dua jenis cairan, kristaloid dan koloid.

Cairan Kristaloid adalah cairan yang tersusun dari mineral, garam, dan zat-zat yang dapat larut dalam air, contohnya solusi garam, dekstrosa, dan laktat Ringer. Sebagian dokter memberi kristaloid pada pasien dehidrasi dan yang memerlukan penggantian elektrolit.

Di sisi lain, koloid adalah molekul yang tak dapat larut dalam air. Solusi koloid memiliki partikel-partikel besar yang dimanfaatkan sebagai pengganti darah, ekspansi volume, dan mempertahankan tekanan darah normal. Contohnya seperti Albumin, Dextran, Gelatin dan juga HES (Hydroxyethil Starch).

Terapi intravena memiliki beberapa manfaat, termasuk proses pemberian cairan obat ke dalam sistem tubuh yang cepat dan menjamin obat dengan bioavailabilitas penuh ata 100%.

Tentunya Anda sudah tidak asing lagi dengan terapi cairan melalui intravena ini. Namun pernahkah Anda bertanya-tanya tentang “Lho kenapa cairan infus harus diberikan melalui pembuluh darah vena?”, “Kenapa tidak di pembuluh darah arteri atau kapiler?”

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, anda harus mengetahui dulu bahwa:

Terdapat tiga jenis pembuluh darah, yaitu:

  1. Pembuluh darah arteri, yaitu pembuluh darah yang membawa darah kaya oksigen dari jantung ke seluruh tubuh. Darah dipompa keluar jantung melalui aorta, kemudian aorta bercabang menjadi struktur yang lebih kecil yang disebut arteri yang menyebar ke seluruh tubuh. Ketika jantung memompa darah, dinding otot arteri akan mengembang sehingga terisi darah. Ketika jantung rileks (relaksasi), arteri akan mengencang (kontraksi) dengan kekuatan yang cukup kuat untuk mendorong darah ke seluruh tubuh.
  2. Pembuluh darah kapiler, yaitu pembuluh darah yang memfasilitasi pertukaran oksigen (O2) dan karbondioksisa (CO2) antara sel-sel darah merah dan jaringan tubuh. Pembuluh kapiler menghubungkan arteri dan vena melalui arteriola dan venula yang berjalan paralel ke seluruh tubuh. Sel darah merah yang tadinya mengangkut oksigen akan bertukar muatannya menjadi karbondioksida (bertukar dengan jaringan) kemudian akan dialirkan ke venula lalu ke vena dan kembali ke jantung. Selain itu, pada pembuluh darah kapiler juga terjadi pertukaran air, garam dan mineral lainnya pada darah dan jaringan tubuh lain disekitarnya.
  3. Pembuluh darah vena, yaitu pembuluh darah yang membawa darah kaya karbondioksida (CO2) dari jaringan kembali ke jantung. Setelah darah terdeoksigenasi dilewatkan pada kapiler, kemudian bergerak ke vena terkecil yang disebut venila, kemudian ke vena besar. Vena pulmonalis (paru) adalah satu – satunya vena yang membawa darah yang kaya oksigen, berfungsi membawa darah dari paru- paru ke atrium kiri jantung.  

Jadi, pembuluh darah vena membawa darah dari jaringan tubuh menuju ke jantung, sedangkan pembuluh darah arteri membawa darah dari jantung menuju ke seluruh tubuh.

Sedangkan pembuluh darah vena pulmonalis membawa darah yang kaya oksigen untuk diedarkan ke seluruh tubuh.  

Pemasangan infus dan pemberian suntikan obat dilakukan pada pembuluh vena dengan tujuan agar obat yang diberikan dapat bereaksi dengan cepat di dalam tubuh, karena obat yang dimasukkan melalui vena akan langsung masuk ke sistem sirkulasi darah, yaitu menuju ke jantung, kemudian darah tersebut akan dipompa ke seluruh tubuh oleh pembuluh darah arteri.

Sehingga darah dengan mengandung obat tersebut akan menyebar ke seluruh tubuh. Hal ini menyebabkan obat dapat bereaksi dengan lebih cepat dibandingkan dengan cara enternal atau parental yang memerlukan waktu untuk absorbsi.

Kondisi ini sering dilakukan pada pasien dengan keadaan gawat darurat.

Nah, setelah mengetahui alasannya, tentunya pemasangan infus tersebut mempunyai maksud dan tujuan. Tidak asal pasang atau hanya sekedar formalitas perawatan saja.

Terapi Intravena

Tujuan Terapi Intravena


Tujuan dari terapi cairan intravena ini adalah :

  1. Memberikan atau menggantikan cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit, vitamin, protein, lemak, dan kalori, yang mana sudah tidak dapat dipertahankan secara adekuat melalui pemberian oral.
  2. Memperbaiki keseimbangan asam dan basa.
  3. Memperbaiki volume komponen-komponen darah.
  4. Menyediakan jalan masuk untuk pemberian obat-obatan kedalam tubuh.
  5. Memonitor tekanan vena sentral (CVP).
  6. Memberikan nutrisi pada saat sistem pencernaan diistirahatkan yang bisa disebabkan karena gangguan penyakit atau cedera.

Macam-macam Larutan Terapi Intravena


Berdasarkan osmolalitasnya :

1. Isotonik, contohnya :

  • NaCl 0,9%,
  • Ringel Laktat (RL),
  • Komponen-komponen darah seperti Albumin 5% dan plasma, 
  • Dextrose 5% (D5W).

2. Hipotonik, contohnya :

  • Dextrose 2,5% dalam NaCl 0,45%,
  • NaCl 0,45%,
  • NaCl 0,2%.

3. Hipertonik, contohnya :

  • Dextrose 5% dalam Nacl 0,9%,
  • Dextrose 5% dalam Nacl 0,45%,
  • Dextrose 5% dalam Ringel Laktat,
  • Dextrose 10% dalam air,
  • Dextrose 20% dalam air,
  • NaCl 3%,
  • NaCl 5%,
  • Larutan Hiperalimentasi,
  • Albumin 25%.

Berdasarkan tujuan penggunaannya :

1. Pemberian Nutrisi, contohnya :

  • D5W,
  • Dextrose 5% dalam 0,45% Sodium Chloride.

2. Pemberian Elektrolit, contohnya :

  • Normal Saline (NS),
  • Larutan Ringer (Sodium, Cl, Potassium dan Kalsium),
  • Ringel Laktat, RL.

3. Perbaikan Asam / Netralisir Asidosis Metabolik, contohnya :

  • Ringer Laktat / RL

4. Perbaikan Basa / Netralisir Alkalosis Metabolik, contohnya :

  • Dextrose 5% dalam NaCl 0,45%,
  • NaCl 0,9%.

5. Blood Volume Expanders / Peningkatan volume darah karena kehilangan arah/plasma darah dalam jumlah besar (hemoragi, luka bakar berat), contohnya :

  • Dextran,
  • Plasma,
  • Human Serum Albumin.

Indikasi Terapi Intravena


  1. Keadaan emergency (semisal pada tindakan CPR/RJP), yang memungkinkan pemberian obat langsung kedalam vena.
  2. Keadaan yang membutuhkan respon yang cepat terhadap pemberian obat
  3. Mendapat terapi obat dalam dosis besar secara terus menerus melalui Intravena
  4. Mendapat terapi obat yang tidak bisa diberikan melalui oral atau intramuskular
  5. Membutuhkan koreksi/pencegahan gangguan cairan dan elektrolit
  6. Sakit akut atau kronis yang membutuhkan terapi cairan
  7. Mendapatkan transfusi darah
  8. Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum dilakukannya prosedur seperti pada operasi besar dengan resiko pendarahan, dipasang jalur infus intravena untuk persiapan jika terjadi syok, juga untuk memudahkan pemberian obat
  9. Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, semisal resiko dehidrasi (kekurangan cairan), dan syok (mengancam nyawa) sebelum pembuluh darah kolaps (tidak teraba) sehingga tidak dapat dipasang jalur infus

Kontraindikasi


  1. Daerah yang memiliki tanda-tanda infeksi, infiltrasi atau trombosis
  2. Daerah yang berwarna merah, kenyal, bengkak dan hangat saat disentuh
  3. Vena dibawah infiltrasi vena sebelumnya atau di bawah area plebitis
  4. Vena yang sklerotik atau bertrombus
  5. Lengan dengan fistula arteriovenosa
  6. Lengan yang mengalami edema, infeksi, bekuan darah, atau kerusakan kulit
  7. Lengan pada sisi yang mengalami mastektomi (aliran balik vena terganggu)
  8. Lengan yang mengalami luka bakar

Prosedur Pelaksanaan Terapi Intravena


Terapi intravena termasuk kedalam salah satu tindakan invasif (menimbulkan luka) sehingga pelaksanaannya membutuhkan skill, attitude dan knowledge yang mumpuni.

Karenanya, sebagai tenaga kesehatan – khususnya perawat – adalah sebuah keharusan untuk bisa melakukan tindakan pemasangan infus yang baik dan benar sesuai standar operasional prosedur yang berlaku agar hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihindari serta pemberian terapi intravena dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Berikut beberapa Prosedur Pelaksanaan Terapi Intravena yang penting untuk Anda kuasai, mulai dari SOP sampai pelaksanaan tindakan dan evaluasi. Silahkan baca berurutan mulai dari nomor 1 dan seterusnya :

Bab 1 : Panduan Lengkap Pemasangan Infus [Standar Operasional Prosedur]

Bab 2 : 50 Tips Pemasangan Infus dalam 1 Kali Tusukan

Bab 3 : 12 Tips Sukses Pemasangan Infus pada Bayi dan Anak-Anak dengan Menggunakan Teknik Rolling Ball

Bab 4 : 3 Kesalahan Mendasar yang Seringkali Dilakukan Ketika Pemasangan Infus

Suka dengan artikel ini?

Jadilah bagian dari Nerslicious Learningpad agar tidak ketinggalan informasi ilmu dan kiat keperawatan terbaru dari kami. Plus, akses ke berbagai konten premium kami. Gratis!

Ayo Jadi Bagian dari Nerslicious!

Apakah anda seorang Perawat Pendidik? Mari bergabung sebagai mentor di Nerslicious Academy, dan bantu kami untuk meningkatkan akses terhadap pendidikan keperawatan digital di Indonesia!

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay on top - Get the nursingdaily in your inbox