50 Tips Cara Pemasangan Infus dalam 1 Tusukan Anti Gagal

0
pemasangan infus

Kebanyakan keluhan yang diterima perawat dari pasien dan keluarga ketika dirawat di rumah sakit adalah tidak jalannya infusan atau bengkaknya lokasi pemasangan infus. Pun dengan keluhan “sakit ketika sedang di infus” karena dilakukan beberapa kali tusukan.

Pernahkah mendapatkan keluhan seperti itu? Jika pernah, maka artikel ini sangat cocok untuk kamu!

Disini kamu akan mengetahui bagaimana cara pemasangan infus atau insersi IV Cath yang baik dan benar, yang dapat mengurangi rasa sakit pasien, dan dalam satu tusukan. Dari A sampai Z, dari tahap persiapan sampai akhir, semuanya akan dibahas.

So, here we go!

Pengantar dan Ikhtisar

Terapi intravena merupakan salah satu perawatan yang paling dasar yang diberikan hampir kepada setiap pasien yang dirawat di rumah sakit. Dan tentunya, keterampilan pemasangan infus atau insersi IV Cath ini haruslah dikuasai oleh setiap perawat.

Untuk menghindari keluhan ini, dan menghindari rasa sakit yang tidak semestinya dirasakan oleh pasien, lihatlah beberapa tips keperawatan dibawah ini tentang bagaimana menjadi seorang Sniper dalam hal pemasangan infus atau insersi IV Cath.

50 Tips Cara Pemasangan Infus (Insersi IV Kateter) dalam 1 Tusukan

50 Tips Cara Pemasangan Infus dalam 1 Tusukan

1. Tetap tenang dan siapkan segala sesuatunya

Pemasangan infus atau Insersi IV Cath dalam satu tusukan akan tergantung dari persiapan, keterampilan dan pengalaman yang dimiliki. Umumnya, karena belum memiliki pengalaman yang banyak, para perawat fresh graduate gagal melakukan insersi ini.

Namun faktanya, persiapan dan ketenanganlah yang menjadi kunci keberhasilan insersi IV Cath. Sehingga, hilangkan kecemasan, jangan terburu-buru dan jelaskan prosedur kepada pasien. Pastikan pasien merasa nyaman dan cukup hangat untuk mencegah vasokontriksi. (Jika memungkinkan, hindari insersi di subuh hari).

2. Bangun kepercayaan diri

Percaya pada diri sendiri dan yakinkan pasien bahwa kamu tahu apa yang kamu lakukan. Pasien akan terdorong oleh rasa percaya diri kamu (hilangnya kecemasan – hilangnya vasokontriksi), dan kamu akan terdorong oleh kepercayaan pasien.

3. Kaji adanya fobia jarum

Fobia jarum adalah respon dari pemasangan infus sebelumnya. Gejalanya termasuk takikardia dan hipertensi sebelum insersi. Ketika insersi, bradikardi dan penurunan tekanan darah akan terjadi dengan tanda gelaja pucat, diaforesis, dan sinkop.

Yakinkan pasien dengan nada menghibur dan mendidik. Jaga jarum agar terhindar dari pandangan pasien sampai detik terakhir sebelum insersi. Gunakan anestesi topikal untuk membantu mengelola nyeri dan fobia jarum berulang.

4. Observasi tindakan pengendalian infeksi

Gunakan sarung tangan ketika insersi pada pasien. Insersi IV Cath merupakan prosedur invasif dan membutuhkan teknik aseptik serta langkah-langkah pengendalian infeksi yang tepat. Gunakan alcohol swab di area insersi untuk meminimalkan mikroorganisme dan memvisualisasikan vena agar lebih jelas.

5. Kaji vena yang akan di insersi

Sebelum memasukan jarum ke pembuluh darah, kamu harus mengkaji terlebih dahulu kondisinya. Pasien dengan hidrasi yang baik akan memiliki vena yang tegas, jelas, lentur dan “mudah ditemukan”.

Namun adakalanya pasien yang harus di terapi intravena adalah pasien-pasien dengan dehidrasi, sehingga ini merupakan tantangan tersendiri. Tips nomor 6 akan membantu kamu menemukan vena yang tepat.

6. Jangan dilihat, tapi rasakan

Jika kamu tidak dapat melihat vena yang tepat, percayalah pada jari-jari tangan kamu adalah hal terakhir yang dapat kamu lakukan. Sebuah tendon mungkin akan terlihat seperti pembuluh darah, namun jari dan perasaan kamu dapat membedakannya.

7. Tanya pasien

Pasien mungkin akan tahu lebih banyak lokasi-lokasi vena yang tepat berdasarkan riwayat insersi sebelumnya.

8. Gunakan ukuran IV Cath yang sesuai

Pada pasien dewasa, umumnya ukuran IV Cath yang dipakai adalah 20 G (warna pink). Namun jangan pernah mengasumsikan bahwa semua pasien adalah sama. Sehingga lihat dan kaji vena yang akan di insersi sebelum menentukan ukuran IV Cath yang hendak dipakai. Hal ini dapat menghindarkan pasien dari rasa sakit akibat ruptur dan tekanan jarum.

Nerslicious Pemasangan Infus

9. Pertimbangan penggunaan

Apa jenis infusan yang diperlukan pasien? RL kah? NaCl kah? Transfusi kah? Atau kemo kah? Lantas berapa cc cairan yang dibutuhkan dalam 24 jam? Berapa tetesan infus yang harus diberikan? Ketahui hal-hal tersebut sebelum melakukan pemasangan infus atau insersi IV Cath.

Nerslicious Pemasangan Infus

10. Lakukan insersi di tangan yang tidak dominan (Jika dan hanya jika memungkinkan)

Jika memungkinkan, lakukan insersi dengan prioritas pertama tangan yang tidak dominan. Hal ini dilakukan agar pasien masih dapat melakukan fungsi sederhana dengan menggunakan tangan yang dominan. Namun jika kamu tidak dapat menemukan vena yang tepat pada tangan yang tidak dominan, carilah di tangan yang dominan.

Mencari Vena Terbaik untuk Insersi

11. Mulailah dengan urutan area distal – proksimal

Agar kamu tidak kehilangan area-area lainnya yang mungkin mempunyai vena yang baik, maka mulailah dari area distal terlebih dahulu semisal di punggung tangan. Jika tidak ada vena yang baik untuk dilakukan penusukan, maka naiklah secara proksimal semisal di atas sendi pergelangan tangan.

Jika kamu melakukannya di area proksimal terlebih dahulu (misal di vena cephalic pergelangan tangan), mungkin kamu tidak akan bisa melakukan penusukan di area distal (vena cephalic di punggung tangan) karena vena atasnya sudah rusak akibat tusukan yang pertama. (Lihat gambar dibawah ini).

Nerslicious Pemasangan Infus

12. Gunakan Cuff ย Tensi Darah

Jika pasien mempunyai tekanan darah rendah (bisa diakibatkan oleh fobia jarum – lihat bagian pertama dari artikel ini), maka agar dilatasi vena merata lebih baik menggunakan cuff tensi darah sebagai tourniquet. Cuff tensi darah akan memberikan tekanan yang merata dan dapat disesuaikan ketimbang tourniquet. Teknik ini juga berguna untuk pasien-pasien lansia dengan vena yang sulit di akses. Caranya? Lihat no 13!

13. Bagaimana menggunakan Cuff Tensi Darah sebagai Tourniquet

Ketika hendak menggunakan cuff tensi darah sebagai tourniquet, balikan posisinya sehingga tubing (2 selang karet cuff) berada di posisi atas. Dengan cara ini, kamu akan mendapatkan visual yang jelas tanpa adanya halangan dan menghindari kontaminasi dari tubing ke area insersi.

Konten ini khusus untuk perawat/mahasiswa keperawatan. Saat ini Anda telah mencapai batas maksimal untuk membaca konten tanpa registrasi. Silahkan login / registrasi untuk membaca artikel selengkapnya.

  

1 COMMENT

  1. Pernah lihat yang menepuk-nepuk gitu saat akan memasukkan jarum infus, mungkin itu yang dimaksud dengan menampar vena ya, wah kalau ada banyak alternatif yg tidak menimbulkan rasa sakit kenapa tidak memilihnya ya, atau bisa jadi minim pengetahuan … miris

  2. Hadeuh, ngeri, ini yg jd alasan sy untuk sllu mencoba sehat, jgn smpe sakit apalagi masuk RS, saya paling benci ditusuk seperti itu, #sakit, lebih baik sy bersusah payah hdp sehat drpd hrs dberikan perawaratan 'melukai diri' ky gtu

    Hiks hiks hiks

  3. Saya sendiri sebenarnya agak takut-takut gimana gitu dengan jarum suntik,.apalagi waktu kecil dulu, sayakan kurus jadinya pas mau disuntik rasanya takut banget tapi sekarang enggak lagi karena saya sudah gede dan berotot,..he-he ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜‚

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here