Dapatkan INSENTIF Menarik, gabung jadi penulis di Nerslicious Academy Daftar Disini

Sejarah dan Kiprah 68 Tahun Ikatan Bidan Indonesia – IBI

Tepat hari ini, tanggal 24 Juni 68 tahun silam, sebuah konferensi sedang berlangsung di Jakarta.

Sebuah konferensi yang berhasil meletakan landasan yang kuat serta arah yang benar bagi Profesi Kebidanan Indonesia sehingga pada tanggal dan tahun tersebut, lahirlah sebuah organisasi profesi kebidanan yang kita kenal sekarang dengan nama Ikatan Bidan Indonesia atau disingkat IBI.

Baca Juga : 17 Ucapan Selamat Hari Bidan Spesial untuk Seluruh Bidan Indonesia

Sejarah IBI

Sejarah mencatat, setidaknya ada 4 poin tujuan didirikannya IBI pada konferensi tersebut, yaitu;

  1. Menggalang persatuan dan persaudaraan antar sesama bidan serta kaum wanita pada umumnya, dalam rangka memperkokoh persatuan bangsa.
  2. Membina pengetahuan dan keterampilan anggota dalam profesi kebidanan, khususnya dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta kesejahteraan keluarga.
  3. Membantu pemerintah dalam pembangunan nasional, terutama dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
  4. Meningkatkan martabat dan kedudukan bidan dalam masyarakat.

Dengan memegang landasan dan arah tersebut, dari tahun ke tahun Organisasi Profesi IBI terus berkembang dan berkiprah dalam dunia kesehatan Indonesia.

Tentunya, perkembangan tersebut tidak lepas dari sosok pahlawan kebidanan Indonesia yang menjadi pemrakarsa konferensi tersebut. Sosok-sosok kuat cerminan Srikandi Kesehatan Indonesia yang melalui semangat dan keringatnya mereka berhasil menyatukan dan memproklamirkan IBI sebagai satu-satunya organisasi resmi bagi seluruh Bidan Indonesia.

Mereka adalah;

  • Ibu Selo Soemardjan,
  • Ibu Fatimah,
  • Ibu Sri Mulyani,
  • Ibu Salikun,
  • Ibu Sukaesih,
  • Ibu Ipah dan,
  • Ibu S. Margua.

Selain mendirikan dan memproklamirkan IBI sebagai Organisasi Profesi Bidan, Hasil-hasil terpenting dari konferensi pertama bidan seluruh Indonesia tahun 1951 tersebut adalah:

  1. Sepakat membentuk organisasi Ikatan Bidan Indonesia, sebagai satu-satunya organisasi yang merupakan wadah persatuan & kesatuan Bidan Indonesia.
  2. Pengurus Besar IBI berkedudukan di Jakarta.
  3. Di daerah-daerah dibentuk cabang dan ranting. Dengan demikian organisasi/perkumpulan yang bersifat lokal yang ada sebelum konferensi ini semuanya membaurkan diri dan selanjutnya bidan-bidan yang berada di daerah-daerah menjadi anggota cabang-cabang dan ranting dari IBI.
  4. Musyawarah menetapkan Pengurus Besar IBI dengan susunan sebagai berikut:
    • Ketua I : Ibu Fatimah Muin
    • Ketua II : Ibu Sukarno
    • Penulis I : Ibu Selo Soemardjan
    • Penulis II : Ibu Rupingatun
    • Bendahara : Ibu salikun

Seiring berjalannya waktu, sepak terjang dan kiprah IBI dalam perkembangan kesehatan Indonesia semakin terasa seiring dengan datangnya berbagai pengakuan dari berbagai macam instansi atas eksistensi IBI, diantaranya;

Sejarah Ikatan Bidan Indonesia - IBI

15 Oktober 1954, IBI secara sah diakui sebagai organisasi yang berbadan hukum dan terdaftar dalam Lembaga Negara nomor: J.A.5/92/7 Tahun 1954 tanggal 15 Oktober 1954 (Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

Tahun 1956 IBI diterima sebagai anggota ICM (International Confederation of Midwives). Sampai saat ini, IBI masih tercatat sebagai anggota aktif dari ICM.

Selain itu, seperti dilansir dari situs resmi IBI bahwa seluruh anggota IBI yang terdiri dari wanita telah tergabung dengan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) pada tahun 1951 dan hingga saat ini IBI tetap aktif mendukung program-program KOWANI bersama organisasi wanita lainnya dalam meningkatkan derajat kaum wanita Indonesia.

Hal ini ditambah dengan terbitnya Undang-Undang RI No.8 tahun 1985, tentang organisasi kemasyarakatan maka IBI dengan nomor 133 terdaftar sebagai salah satu Lembaga Sosial Masyarakat di Indonesia.

Begitu juga dalam Komisi Nasional Kedudukan Wanita di Indonesia (KNKWI) atau National Commission on the Status of Women (NCSW). IBI merupakan salah satu anggota pendukungnya.

Sepak terjang IBI tidak berhenti sampai disitu.

Demi untuk meluaskan dan menjangkau seluruh daerah di Indonesia, pada tahun 1985, untuk pertama kalinya IBI melangsungkan Kongres di luar pulau Jawa, yaitu di Kota Medan (Sumatera Utara).

Sejarah mencatat, kongres pertama IBI di luar pulau Jawa ini didahului dengan pertemuan ICM Regional Meeting Western Pacific yang dihadiri oleh anggota ICM dari Jepang, Australia, New Zealand, Philiphina, Malaysia, Brunei Darussalam dan Indonesia.

Dalam perannya sebagai profesi yang bergerak dalam bidang pelayanan Obstetri dan Ginekologi, pada tahun 1986 IBI secara organisatoris mendukung pelaksanaan pelayanan Keluarga Berencana oleh Bidan Praktek Swasta melalui BKKBN.

Selain itu, di tingkat internasional, IBI yang sejak tahun 1956 menjadi anggota International Confederation of Midwives (ICM), berhasil menaikan pamornya di mata Internasional melalui Dr. Emi Nurjasmi, M.Kes (Ketua PP IBU 2013-2018) yang pada kongres ICM Ke-31 terpilih sebagai Koordinator ICM Asia Pasific.

Dan pada kongres ICM ke-30 di Praha, IBI berhasil memenangkan bidding lokasi penyelenggaraan kongres ICM ke-32 untuk diselenggarakan di Indonesia, tepatnya di Bali pada tahun 2020 mendatang. sebuah pencapaian yang luar biasa dalam kiprahnya membawa nama Indonesia di kancah Internasional.

Dalam 68 tahun berdirinya IBI, gerak dan langkah IBI di semua tingkatan, baik Pengurus Daerah, Pengurus Cabang ataupun Pengurus Ranting, bisa dikatakan semakin maju dan berkembang.

Tercatat, sampai dengan tahun 2018, IBI telah memiliki 34 Pengurus Daerah, 509 Pengurus Cabang (di tingkat Kabupaten/Kota) dan 3.728 Pengurus Ranting IBI (di tingkat Kecamatan/unit Pendidikan/Unit Pelayanan). Jumlah anggota yang telah memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) 304.732 (12 September 2018), sedangkan jumlah bidan yang terdaftar di Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) ada 658.510 (MTKI, Agustus 2018).

Tentunya, hal ini tidak terlepas dari kerja keras dari seluruh Pengurus dan Anggota IBI yang tidak kenal lelah untuk terus berkiprah demi pelayanan kesehatan – kebidanan Indonesia yang lebih baik dan lebih baik lagi.

Maka tak heran jika Plato mengatakan;

The greatest privilege of human life is to become a midwife to the awakening of the soul in another person. (Hak istimewa terbesar kehidupan manusia adalah menjadi seorang bidan bagi kebangkitan jiwa pada orang lain.)

Dan seperti apa yang Plato katakan, semoga Profesi Bidan Indonesia bisa menjadi profesi yang membangkitkan semangat perjuangan akan pelayanan kesehatan Indonesia yang lebih paripurna di masa yang akan datang.

Teruslah berjuang, teruslah berkiprah dan mencatatkan sejarah. Sukses selalu untuk Ikatan Bidan Indonesia.

Share on:

0 thoughts on “Sejarah dan Kiprah 68 Tahun Ikatan Bidan Indonesia – IBI”

Leave a Comment