Asuhan Keperawatan Tuberkulosis Paru (TBC)

0

Askep Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis paru adalah infeksi kronis akut atau sub akut pada parenkim paru yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis. Infeksi dapat terjadi di seluruh tubuh namun tersering pada jaringan paru-paru.

Etiologi dan Cara Penyebaran

Mycobacterium tuberculosis (paling banyak), Mycobacterium bovis, Mycobacterium kansasii dan Mycobacterium intracellulare.

Sumber penularan utama adalah penderita BTA Positif (Mycobacterium tuberculosis) yang disebarkan pada saat batuk atau bersin, batuk, bicara atau bernyanyi (droplet dengan ukuran 1 – 5 microns).

Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar dalam beberapa jam dan orang dpt terinfeksi jika droplet terhirup saat bernafas. Adapun faktor predisposisi tertularnya Tb paru yaitu factor yang melemahkan atau keadaan imunitas yang menurun, misalnya diabetes, alcohol, malnutrisi, penyakit paru kronik.

Klasifikasi Mycobacterium Tuberkulosa

  1. Populasi A : dalam kelompok ini kuman tumbuh berkembang biak terus menerus dengan cepat. Kuman-kuman ini banyak terdapat pada dinding/lesi yg pH nya netral.
  2. Populasi B : dalam kelompok ini kuman tumbuh sangat lambat dan berada dalam lingkungan asam (pH rendah). Lingkungan asam ini melindungi kuman terhadap obat anti tuberkulosis tertentu.
  3. Populasi C : pada kelompok ini kuman berada dalam keadaan dormant (tidak ada aktivitas). Hanya kadang-kadang kuman ini mengadakan metabolisme secara aktif dalam waktu singkat.
  4. Populasi D : dalam kelompok ini terdapat kuman-kuman yang sepenuhnya bersifat dormant (complete dormant), sehingga sama sekali tidak b isa dipengaruhi oleh obat anti tuberkulosis. Jumlah populasi ini tidak jelas dan hanya dapat dimusnahkan oleh mekanisme pertahanan tubuh manusia itu sendiri.

Sifat Mycobacterium Tuberkulosa

Kuman Tb dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat bertahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini karena kuman berada dalam sifat dormant sehingga kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif lagi. Jika dalam ruangan lembab dan gelap, kuman dapat bertahan bertahun-tahun.

Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala pada pernafasan diantaranya : batuk, krekels di atas apeks paru, sesak nafas dan nyeri dada.

Sedangkan gejala umumnya antara lain : demam, berkeringat malam, sakit kepala,takikardi, anoreksia, penurunan BB, malaise/keletihan, llimfe membengkak, menstruasi tak teratur, keluhan tidak bisa tidur.

Patofisiologi

Secara patogenesis, bahan lipid dan karbohidrat dinding M. Tuberculosis dapat meningkatkan virulensi dengan menghalangi fusi fagolisosom, sehingga bakteri dapat bertahan dalam sel.

Reaksi hipersensitivitas yang terjadi saat proses inflamasi adalah reaksi hipersensitivitas lambat (tipe IV). Reaksi terhadap basil tuberkel ini terbentuk dalam 2-4 minggu setelah infeksi awal. Individu yang tersensitisasi akan menunjukan reaksi indurasi yang berlebih (> 5 mm) pada tes PPD.

Namun hasil tes positif hanya menunjukan sensitivitas, bukan penyakit aktif. Setelah sensitisasi terjadi selama fase infeksi, reaksi peradangan nonspesifik berubah menjadi granuloma yang sering disertai nekrosis kaseosa. Peningkatan resistensi terjadi berupa kemampuan menghambat replikasi kuman interseluler.

Jika dilihat dari pajanan terjadinya penyakit, tuberkulosa terbagi menjadi dua, yaitu primer dan post primer (sekunder)

1. TBC Primer
Bentuk ini terjadi pada penderita yang sebelumnya tidak pernah terpapar dengan kuman tuberculosis atau saat orang pertama kali terpapar kuman TB.

Setelah terinhalasi, kuman Tb sebagian hancur (melewati sistem pertahanan mukosilier bronkus), sebagian berkembang biak selanjutnya membentuk sarang primer + limfangitis local + limfadenopati regional (kompleks primer).

Lesi biasanya terjadi di dekat pleura pada bagian inferior lobus atas atau bagian superior lobus bawah.

Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan komplek primer sekitar 4-6 minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif.

Pada tuberkel lama dengan jaringan parut mungkin tidak ditemukan kuman tetapi mengandung kuman yang infektif, kadang bertahan sampai beberapa puluh tahun. Tuberkulosis primer biasanya asimptomatik.

Pada fase ini dapat terjadi penyebaran ke kelenjar getah bening (kelenjar limfe) bronkus atau hilus ipsilateral berakibat terjadinya lesi campuran paru dan kelenjar getah bening (kompleks ghon).

Pada kebanyakan kasus, infeksi tidak berkembang dan menghasilkan jaringan parut dan kalsifikasi lokal. Kadang-kadang terjadi pneumonia primer progresif. Komplikasi lain adalah tuberkulosis milier diseminata, yang terjadi bila kuman tuberkulosis masuk ke dalam peredaran darah.

2. TBC Post Primer
Tuberculosis post primer menunjukan infeksi aktif pada penderita yang sebelumnya telah mengalami sensitisasi.

Kebanyakan kasus merupakan reaktivasi bakteri dorman dari lesi primer. Proses ini meliputi pembentukan sarang di region atas paru-paru (apical posterior lobus superior atau inferior).

Hal ini menunjukan M. tuberculosis memilih lokasi dengan pO2 yang tinggi. 3-10 minggu kemuadian menjadi tuberkel.

 TBC Post primer terjadi beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer (akibat penurunan daya tahah tubuh, infeksi HIV, status gizi buruk).

Akibat dari proses di atas mengarah pada terjadinya penyakit paru restriktif, dimana terjadinya kehilangan daerah pertukaran gas, baik secara anatomis maupun fungsional. Selain itu penyakit paru restriktif menyebabkan penurunan komplians paru, kapasitas vital, kapasitas residu fungsional dan kapasitas difusi.

Penatalaksanaan Umum

Pemberian antibiotik (RHEZS), analgesic, terapi O2, diet TKTP, isolasi pernafasan dan operasi (drainase, reseksi paru).

Proses Keperawatan

1. Pengkajian

Pengkajian pada asuhan keperawatan TBC paru meliputi :

  1. Identitas
  2. Riwayat Kesehatan
    • Keluhan utama : Keluhan yang sering muncul biasanya, sesak atau nyeri dada.
    • Riwayat kesehatan sekarang : Penjabaran dari keluhan utama (PQRST)
    • Riwayat kesehatan dahulu : Dikaji terutama riwayat merokok, kontak dengan penderita Tb paru, riwayat penyakit saluran pernafasan lain, riwayat pekerjaan yang berkaitan dengan zat polutan.
    • Riwayat kesehatan keluarga : Dikaji riwayat Tb paru di keluarga dan pengobatannya.
  3. Kondisi tempat tinggal dan lingkungan : Dikaji kondisi rumah dan lingkungan meliputi sumber polutan, pemaparan sinar matahari, kelembaban ruangan, ventilasi
  4. Aktivitas sehari-hari : Dikaji pola nutrisi, eliminasi, aktivitas, personal higiene dan pola tidur.
  5. Pemeriksaan Fisik (dilakukan persistem):
    • Sistem persarafan, biasanya ditemukan pasien sadar, gelisah, hingga penurunan kesadaran.
    • Sistem pernafasan, klien biasanya terlihat sesak, nyeri dada, respirasi meningkat, mungkin batuk produktif atau darah (haemaptoe), suara nafas ronchii/gargling, terdapat perubahan perbandingan diameter anteroposterior dada, deviasi trakea, vocal premitus menurun.
    • Sistem kardiovaskuler, biasanya heart rate meningkat lemah, penurunan tekanan darah, mungkin peningkatan JPV, sianosis perifer, konjungtiva pucat.
    • Sistem gastrointestinal, mungkin terjadi penurunan bising usus, nafsu makan berkurang, keluhan mual muntah akibat obat Tb paru.
    • Sistem perkemihan, biasanya ditemukan urine kemerahan sebagai efek samping obat Tb paru.
    • Sistem endokrin, biasanya ditemukan hipermetabolisme akibat infeksi, pembesaran KGB, gula darah meningkat.
    • Sistem reproduksi, biasanya ditemukan gangguan menstruasi pada wanita, penurunan hasrat sexual.
    • Sistem integument, biasanya ditemukan peningkatan diaforesis, kulit pucat dengan turgor jelek, kehilangan lemak sub kutan.
    • Sistem musculoskeletal, biasanya ditemukan penampilan kurus, bentuk tulang dada berubah, penurunan kekuatan otot, penurunan tonus otot.
  6. Aspek psikososial dan spiritual : Biasanya terdapat gangguan konsep diri pada penderita, merasa dikucilkan akibat pandangan negative masyarakat.
  7. Aspek pengetahuan : Perlu dikaji pemahaman penderita TB paru dan keluarganya berkenaan dengan kemampuan dalam perawatan dan pengobatan Tb paru.
  8. Pemeriksaan Penunjang : Pemeriksaan diagnostic meliputi Pemeriksaan dahak (BTA), Foto roentgen, Darah, Mantoux test.

2. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan dan Rencana Tindakan

a. Gangguan oksigenasi ; ventilasi b.d akumulasi sekret di jalan nafas

  • Tujuan : jalan nafas bersih
  • Tindakan :
    1. Obs TTV
    2. Observasi RR, kedalaman, suara paru tambahan dan pgn otot aksesori pernafasan.
    3. Catat sifat sputum; jumlah, warna, bau dan konsistensi
    4. Atur posisi tidur; semi fowler
    5. Ajarkan klien batuk efektif,serta lakukan fisioterapi dada, postural drainage
    6. Berikan klien hidrasi adekuat dgn jml sesuai keb. tubuh serta berikan minum air hangat.
    7. Kolaborasi untuk pemberian terapi mukolitik dan berikan sesuai program.

b. Gangguan pertukaran gas b.d penurunan fungsi paru

  • Tujuan : pertukaran gas adekuat
  • Tindakan :
    • Obs frekuensi,kualitas pernafasan.
    • Obs tanda cyanosis.
    • Obs bunyi nafas, catat peningkatan/penurunan ronki, krekels.
    • Baringkan dlm posisi semi fowler.
    • Kolaborasi pemeriksaan AGD (PO2, PCO2, HCO3, sat O2, BE)
    • Bimbing klien untuk nafas dalam.
    • Berikan oksigen sesuai program pengobatan.
    • Anjurkan klien untuk tirah baring selama periode akut

c. Gangguan rasa nyaman nyeri dada

  • Tujuan : nyeri berkurang/hilang
  • Tindakan :
    • Berikan tindakan untuk meningkatakan rasa nyaman (relaksasi, distraksi)
    • Jika mungkin kolaborasi analgetik
    • Minimalkan aktivitas
    • Pengaturan posisi dada semi fowler
    • Ciptakan lingkungan yang tenang

d. Resiko penyebaran infeksi

  • Tujuan : infeksi tidak berlanjut, tidak menular kepada orang lain
  • Tindakan :
    • Identifikasi keluarga atau orang lain yang dapat tertular infeksi
    • Anjurkan klien batuk, bersin dengan menutup mulut
    • Anjurkan klien mengeluarkan dahak pada tempat yang telah disediakan (pot sputum tertutup), ajarkan cara pembuatannya.
    • Tekankan pentingnya tidak mengehentikan obat Tb paru.
    • Identifikasi faktor resiko individu terhadap kemungkinan kekambuhan ulang (alkoholisme, merokok, malnutrisi, lingkungan rumah yang tidak sehat). Segera lakukan pencegahan.

e. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia

  • Tujuan : nutrisi klien terpenuhi
  • Tindakan :
    • Kaji status nutrisi(BB)tiap hari.
    • Kolaborasi dgn bagian gizi u/ pemberian diet TKTP.
    • Berikan penjelasan pada klien ttg pentingnya intake nutrisi dlm proses penyembuhan penyakit
    • Atur posisi yang nyaman saat makan (semi fowler)
    • Motivasi klien u/ menghabiskan porsi makannya
    • Motivasi u/ istirahat sblm makan u/ mengurangi keletihan
    • Berikan makan dlm jumlah kecil tapi sering
    • Berikan makan dlm keadaan hangat
    • Motivasi pada orang terdekat untuk membawakan klien makan kesukaanya yang tidak bertentangan dengan program pengobatan
    • Pantau presentase makanan yang dimakan

f. Aktivitas intoleran b.d keletihan, kelemahan, dispneu

  • Tujuan : aktivitas terpenuhi sesuai kemampuan klien
  • Tindakan :
    • Obs derajat intoleransi aktivitas yang dilaporkan
    • Kaji kekuatan otot klien
    • Observasi frekuensi pernafasan dalam berespons terhadap aktivitas yang dilakukan klien
    • Bantu aktivitas klien selama klien masih lemah.
    • Libatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan klien
    • Bantu dan instruksikan klien u/ merencanakan waktu istirahat diantara waktu aktivitas
    • Berikan terapi oksigen sesuai indikasi
    • Instruksikan dan bimbing klien u/ menggunakan teknik bernafas adaptif
    • Bimbing dan awasi klien dalam melakukan ROM
    • Pantau tanda progresi penyimpangan saat beraktivitas dan segera kolaborasi dengan dokter

g. Gangguan pola tidur; kurang dari kebutuhan b.d batuk, sesak

  • Tujuan : kebutuhan tidur klien terpenuhi
  • Tindakan :
    • Berikan obat-obatan (antitusif, mukolitik,bronkodilator) menjelang tidur.
    • Atur posisi semi fowler
    • Ciptakan suasana tenang,batasi pengunjung saat istirahat
    • Hindari obs,pemberian terapi saat klien tidur
    • Pertahankan pemberian oksigen saat tidur
    • Dorong dan bantu klien dalam melakukan perawatan di malam hari (membereskan tempat tidur,cuci kaki, cuci tangan, gosok gigi)
    • Gunakan alat bantu tidur (mandi air hangat, makanan kecil, dipijat, membaca, relaksasi, berdoa, minum susu hangat)

Persiapan Perawatan Di Rumah

  1. Kaji tingkat pengertian proses penyakit,ketakutan,salah persepsi
  2. Jelaskan sifat penyakit dan tujuan pengobatan serta prosedur
  3. Jelaskan pentingnya higiene (batuk ke dalam tempat sputum, cara membuang sputum, memalingkan muka jika batuk, menghindari kontak langsung dengan sputum)
  4. Jelaskan pentingnya diit TKTP
  5. Jelaskan pentingnya isolasi pernafasan
  6. Jelaskan pentingnya melakukan latihan, istirahat,menghindari keletihan
  7. Jelaskan pentingnya u/ menghindari kontak dekat orang lain
  8. Jelaskan pentingnya perawatan jalan berkelanjutan
  9. Diskusikan gejala untuk dilaporkan pada dokter (batuk darah, nyeri dada, kesulitan bernafas, hilang pendengaran, vertigo)
  10. Diskusikan pengobatan: nama, dosis, waktu pemberian, tujuan dan efek samping
  11. Jelaskan pentingnya untuk menghindari minum obat yang dijual bebas tanpa konsultasi dengan dokter

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here