Mengenal Ventilator : Alat Bantu Pernafasan Mekanik disaat Kritis

ventilator mekanik

Tahun 2008 lalu, mantan presiden Soeharto dilaporkan Kompas menjalani operasi Tracheostomy untuk memindahkan ventilator yang semula di mulut, menjadi di leher. Menurut tim dokter Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) yang menangani Pak Harto, operasi tersebut dilakukan untuk meminimalisir terjadinya infeksi yang kerap kali terjadi.

Empat tahun berselang, tepatnya tahun 2012, kata ventilator juga kembali mengemuka di media massa. Pasalnya, korban pengeroyokan di Jalan Pramuka, Evan Mulyadi (16), diisukan telat diberi ventilator oleh pihak pengelola RSCM, sehingga Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sempat mengungkapkan kekecewaannya di media massa.

Untuk tenaga kesehatan, khususnya dokter dan perawat, ventilator atau ventilasi mekanik, merupakan kata yang biasa terdengar. Apalagi untuk yang bekerja di Intensive Care Unit (ICU). Namun untuk masyarakat umum, kata ini mungkin terdengar tidak familiar atau bahkan asing.

Apa itu Ventilator

Apa itu Ventilator?

Menurut American National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), ventilator adalah sebuah mesin yang berfungsi untuk membantu pernafasan dalam pelayanan di Rumah Sakit. Seringkali, ventilator digunakan dalam proses operasi ketika pasien dalam pengaruh anestesi untuk membantu pernafasan.

Namun tidak hanya itu, Ventilator juga biasanya digunakan untuk pasien-pasien yang mengalami gagal nafas, yaitu suatu kondisi dimana paru-paru tidak dapat memisahkan karbon dioksida dalam darah yang dapat menyebabkan kerusakan dan keracunan karbon dioksida, sehingga dibutuhkan sebuah mesin yang dapat menyingkirkan karbon dioksida tersebut.

Untuk itulah ventilator digunakan.

Meskipun begitu, ventilator atau biasa disebut ventilasi mekanik, bukanlah sebuah metode pengobatan. Ventilator hanyalah sebuah alat bantuan hidup sementara, walaupun pada kenyataannya terdapat beberapa kondisi yang membutuhkan penggunaan ventilator jangka panjang atau bahkan penggunaan seumur hidup.

Dalam kasus seperti itu, ventilator dapat digunakan diluar rumah sakit.

Fungsi Ventilator

Secara umum, ventilator berfungsi untuk ;

1. Menghirup oksigen ke dalam paru-paru

Dalam kasus-kasus seperti pasien dengan pengaruh anestesi (ketika menjalani operasi), tentunya pasien tidak dapat menghirup oksigen karena ketidaksadarannya. Sehingga membutuhkan bantuan ventilator untuk menghirup oksigen masuk ke dalam paru-paru.

2. Menyingkirkan karbon dioksida dalam darah

Seperti sudah dijelaskan diatas, pada pasien-pasien dengan gagal nafas, paru-paru kehilangan kemampuan dalam menyingkirkan karbon dioksida yang seharusnya dikeluarkan ketika ekspirasi karena berbagai sebab.

Jika dibiarkan, karbon dioksida dapat menumpuk dan membahayakan karena bersifat racun. Disinilah fungsi ventilator sebagai penyingkir oksigen dibutuhkan.

3. Membantu pasien untuk bernafas lebih mudah

Dalam kasus seperti Pneumonia, Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK), pasien akan mengalami kesulitan bernafas dikarenakan penyakit tersebut menyerang tepat pada sistem pernafasan. Kesulitan bernafas ini dapat ditangani dengan ventilator sehingga kerja paru-paru tidak terlalu berat dan memudahkan pasien untuk bernafas.

4. Membantu pernafasan pada pasien-pasien yang sudah kehilangan kemampuan untuk bernafas secara spontan

Contohnya untuk kasus-kasus pasien yang berada dalam keadaan koma yang tentunya tidak dapat bernafas secara spontan sehingga membutuhkan bantuan ventilator.

Efek Samping Penggunaan Ventilator

Terlepas dari peran dan fungsinya yang penting, ventilator juga tidak terlepas dari efek samping yang mungkin terjadi dari penggunaannya. Salah satu efek samping yang mungkin terjadi adalah infeksi jalan nafas.

Infeksi ini seringkali disebabkan oleh teknik suction (penghisapan) yang tidak aseptik sehingga terjadi infeksi. Salah satu infeksi yang sering terjadi adalah Ventilator Assisted Pneumonia (VAP).

Dalam sebuah jurnal yang diterbitkan oleh The Indonesian Journal of Infectious Disease, disebutkan bahwa Ventilator-Associated Pneumonia (VAP) adalah pneumonia yang terjadi lebih dari 48 jam setelah pemasangan intubasi endotrakeal akibat dari mikroorganisme yang masuk ke saluran pernafasan bagian bawah melalui aspirasi sekret orofaring yang berasal dari bakteri endemik di saluran pernafasan atau patogen eksogen yang diperoleh dari peralatan yang terkontaminasi atau petugas kesehatan.

Mengenal Ventilator : Alat Bantu Pernafasan Mekanik disaat Kritis

Sedangkan pneumonia itu sendiri adalah sebuah infeksi yang terjadi pada paru-paru.

Nah sesuai namanya, Ventilator-Associated, maka VAP secara sederhana dapat diartikan sebagai pneumonia yang disebabkan oleh infeksi terkait dengan pemasangan ventilator.

Biaya Penggunaan Ventilator per Hari

Biaya penggunaan ventilator per hari cukup mahal. Karena selain biaya sewa alat, juga terdapat biaya honor setting ventilator dan sewa breathing circuit yang tidak kalah mahalnya.

Sebagai informasi;

  • Biaya sewa ventilator per Hari di ICU bisa mencapai angka Rp 500 – Rp 750 ribuan per hari.
  • Untuk honor seting berkisar antara Rp 600 – 800 ribuan sekali bayar.
  • Untuk biaya sewa breathing circuit, bisa mencapai Rp 600 – 950 ribuan, juga untuk sekali bayar.

Sehingga, jika di total untuk hari pertama, pasien harus mengeluarkan minimal sekitar Rp 1,7 juta. Untuk selanjutnya, hari kedua dan seterusnya, pasien hanya membayar biaya sewa ventilatornya saja, yaitu Rp500 – Rp 750 ribuan per hari.

Tentunya, biaya ini diluar biaya ICU lainnya seperti biaya pengobatan, tindakan intubasi, biaya alkes, sewa kamar dan biaya-biaya yang lainnya.

Kenapa Biaya Honor Setting Ventilator Mahal?

Biaya Sewa Ventilator

Seiring dengan perannya yang begitu penting dalam menunjang kehidupan, ventilator juga mempunyai resiko yang bisa dibilang “membahayakan” jika digunakan tanpa menyesuaikan kebutuhan dan prosedur.

Hal ini tentunya menjadi sebuah kewajiban dan tanggung jawab dari seorang operator ventilator. Apalagi, walaupun ventilatornya sama, namun setiap pasien memiliki kebutuhan yang berbeda-beda terkait penggunaan ventilator tersebut.

Sehingga, peran seorang operator ventilator cukup vital untuk melakukan setting ventilator sesuai dengan kebutuhan pasien dan prosedur SOP.

Saya sendiri semasa kuliah pernah mempelajari mesin ventilator ini dalam sebuah mata kuliah Keperawatan Kritis. Dan itu adalah salah satu pelajaran yang sulit.

Selain karena banyaknya pengaturan dan mode, masing-masing ventilator juga mempunyai cara pengaturan yang berbeda-beda walaupun pada dasarnya fungsinya sama.

Tidak jauh berbeda dengan smartphone, beda merk, beda pabrikan, apalagi beda OS, beda juga cara pengoperasiannya.

Resiko Penggunaan Ventilator

Nah, apa yang akan terjadi jika ventilator digunakan tanpa menyesuaikan kebutuhan dan prosedur yang ada?

Tentunya hal ini dapat membahayakan nyawa pasien. Beberapa resiko yang mungkin terjadi diantaranya;

1. Kerusakan paru-paru

Hal ini dapat disebabkan karena tekanan oksigen yang diberikan terlalu tinggi. Untuk itu, setiap operator ventilator haruslah menyesuaikan tekanan dengan kondisi pasien sesuai dengan keadaan dan kondisi pasien tersebut.

2. Pneumothoraks

Pneumorthoraks merupakan kondisi dimana terdapat kebocoran dalam paru-paru sehingga udara masuk ke rongga diantara paru-paru dan dinding dada. Sebagai akibatnya, pasien akan mengalami nyeri dada, sesak nafas bahkan sampai kolaps.

Nah karena tugasnya yang penting, menurut saya wajar jika seorang operator ventilator dibayar cukup mahal. Karena selain untuk profesionalitas, tanggung jawab juga menjadi faktor penting untuk menghindari penggunaan ventilator yang sembarangan.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here