Terapi Intravena [ Panduan Lengkap Pemberian Terapi Cairan Melalui Pembuluh Darah Vena ]

0
Panduan Lengkap Pemberian Terapi Cairan Melalui Pembuluh Darah Vena

Terapi Intravena adalah tindakan yang dilakukan dengan cara memasukan cairan, elektrolit, obat dan atau nutrisi kedalam tubuh secara parenteral melalui pembuluh darah vena.

Terapi ini umumnya disebut sebagai terapi infus atau infusan.

Tentunya Anda sudah tidak asing lagi dengan terapi cairan melalui intravena ini. Namun pernahkah Anda bertanya-tanya tentang “Lho kenapa cairan infus harus diberikan melalui pembuluh darah vena?”, “Kenapa tidak di pembuluh darah arteri atau kapiler?”

Karena penjelasannya lumayan agak panjang, sehingga jawaban tersebut saya pisah dalam artikel tersendiri yang bisa Anda baca dibawah ini …

Mengapa Pemasangan Infus dan Pemberian Obat dilakukan pada Pembuluh Darah Vena?

Agar pemahaman Anda tidak setengah-setengah, saya menyarankan untuk membaca dahulu artikel tersebut lalu kemudian melanjutkan lagi membaca artikel ini.

Nah, setelah mengetahui alasannya, tentunya pemasangan infus tersebut mempunyai maksud dan tujuan. Tidak asal pasang atau hanya sekedar formalitas perawatan saja.

Berikut penjelasan lengkap mengenai terapi intravena.

Terapi Intravena [ Panduan Lengkap Pemberian Terapi Cairan Melalui Pembuluh Darah Vena ]

Tujuan dari terapi cairan intravena ini adalah :

  1. Memberikan atau menggantikan cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit, vitamin, protein, lemak, dan kalori, yang mana sudah tidak dapat dipertahankan secara adekuat melalui pemberian oral.
  2. Memperbaiki keseimbangan asam dan basa.
  3. Memperbaiki volume komponen-komponen darah.
  4. Menyediakan jalan masuk untuk pemberian obat-obatan kedalam tubuh.
  5. Memonitor tekanan vena sentral (CVP).
  6. Memberikan nutrisi pada saat sistem pencernaan diistirahatkan yang bisa disebabkan karena gangguan penyakit atau cedera.

Macam-macam Larutan untuk Terapi Intravena :

A. Cairan atau larutan yang digunakan dalam terapi intravena berdasarkan osmolalitasnya :

1. Isotonik, contohnya :

  • NaCl 0,9%,
  • Ringel Laktat (RL),
  • Komponen-komponen darah seperti Albumin 5% dan plasma, 
  • Dextrose 5% (D5W).

2. Hipotonik, contohnya :

  • Dextrose 2,5% dalam NaCl 0,45%,
  • NaCl 0,45%,
  • NaCl 0,2%.

3. Hipertonik, contohnya :

  • Dextrose 5% dalam Nacl 0,9%,
  • Dextrose 5% dalam Nacl 0,45%,
  • Dextrose 5% dalam Ringel Laktat,
  • Dextrose 10% dalam air,
  • Dextrose 20% dalam air,
  • NaCl 3%,
  • NaCl 5%,
  • Larutan Hiperalimentasi,
  • Albumin 25%.

B. Cairan atau larutan yang digunakan dalam terapi intravena berdasarkan tujuan penggunaannya :

1. Pemberian Nutrisi, contohnya :

  • D5W,
  • Dextrose 5% dalam 0,45% Sodium Chloride.

2. Pemberian Elektrolit, contohnya :

  • Normal Saline (NS),
  • Larutan Ringer (Sodium, Cl, Potassium dan Kalsium),
  • Ringel Laktat, RL.

3. Perbaikan Asam / Netralisir Asidosis Metabolik, contohnya :

  • Ringer Laktat / RL

4. Perbaikan Basa / Netralisir Alkalosis Metabolik, contohnya :

  • Dextrose 5% dalam NaCl 0,45%,
  • NaCl 0,9%.

5. Blood Volume Expanders / Peningkatan volume darah karena kehilangan arah/plasma darah dalam jumlah besar (hemoragi, luka bakar berat), contohnya :

  • Dextran,
  • Plasma,
  • Human Serum Albumin.

Indikasi Terapi Intravena

  1. Keadaan emergency (semisal pada tindakan CPR/RJP), yang memungkinkan pemberian obat langsung kedalam vena.
  2. Keadaan yang membutuhkan respon yang cepat terhadap pemberian obat
  3. Mendapat terapi obat dalam dosis besar secara terus menerus melalui Intravena
  4. Mendapat terapi obat yang tidak bisa diberikan melalui oral atau intramuskular
  5. Membutuhkan koreksi/pencegahan gangguan cairan dan elektrolit
  6. Sakit akut atau kronis yang membutuhkan terapi cairan
  7. Mendapatkan transfusi darah
  8. Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum dilakukannya prosedur seperti pada operasi besar dengan resiko pendarahan, dipasang jalur infus intravena untuk persiapan jika terjadi syok, juga untuk memudahkan pemberian obat
  9. Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, semisal resiko dehidrasi (kekurangan cairan), dan syok (mengancam nyawa) sebelum pembuluh darah kolaps (tidak teraba) sehingga tidak dapat dipasang jalur infus

Kontraindikasi

  1. Daerah yang memiliki tanda-tanda infeksi, infiltrasi atau trombosis
  2. Daerah yang berwarna merah, kenyal, bengkak dan hangat saat disentuh
  3. Vena dibawah infiltrasi vena sebelumnya atau di bawah area plebitis
  4. Vena yang sklerotik atau bertrombus
  5. Lengan dengan fistula arteriovenosa
  6. Lengan yang mengalami edema, infeksi, bekuan darah, atau kerusakan kulit
  7. Lengan pada sisi yang mengalami mastektomi (aliran balik vena terganggu)
  8. Lengan yang mengalami luka bakar

Prosedur Pelaksanaan Terapi Intravena

Terapi intravena termasuk kedalam salah satu tindakan invasif (menimbulkan luka) sehingga pelaksanaannya membutuhkan skill, attitude dan knowledge yang mumpuni.

Karenanya, sebagai tenaga kesehatan – khususnya perawat – adalah sebuah keharusan untuk bisa melakukan tindakan pemasangan infus yang baik dan benar sesuai standar operasional prosedur yang berlaku agar hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihindari serta pemberian terapi intravena dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Berikut beberapa referensi berkaitan dengan Prosedur Pelaksanaan Terapi Intravena yang saya rekomendasikan untuk Anda baca sebagai pelengkap dari artikel ini :

Nah itulah yang bisa saya sampaikan kali ini. Saran, kritik, masukan bisa Anda sampaikan melalui kolom komentar dibawah ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here