Konsep Dasar Asuhan Keperawatan : Pengertian, Fungsi, Tujuan dan Tahapan Askep

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan : Pengertian, Fungsi, Tujuan dan Tahapan Askep

Asuhan Keperawatan atau biasa disingkat ASKEP adalah proses atau tahapan kegiatan pelayanan keperawatan yang diberikan oleh seorang perawat secara langsung kepada pasien dalam berbagai tatanan pelayanan kesehatan yang meliputi pelayanan kebutuhan biologis, psikologis, sosial dan spriritual.

Dalam praktiknya, asuhan keperawatan dilaksanakan dengan melakukan proses keperawatan yang berdasar kepada kaidah-kaidah, ilmu dan kiat keperawatan yang bersifat humanistik dan berdasarkan pada kebutuhan objektif pasien untuk mengatasi masalah kesehatan - keperawatan yang dihadapi dengan dilandasi oleh kode etik dan etika keperawatan dalam ruang lingkup wewenang serta tanggung jawab keperawatan.

Adapun tahapan-tahapan pelaksanaan asuhan keperawatan, atau biasa disebut sebagai proses keperawatan, yaitu meliputi :
  1. Pengkajian / Assessment
  2. Diagnosa
  3. Perencanaan / Intervensi
  4. Pelaksanaan / Implementasi
  5. Evaluasi

Asuhan keperawatan yang meliputi 5 proses keperawatan tersebut diberikan kepada pasien dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan dasar pasien ( basic human needed ) yang terdiri dari 5 kebutuhan dasar sebagaimana yang dijabarkan oleh Abraham Maslow dalam Hierarkinya.

5 Kebutuhan Dasar Manusia tersebut adalah :
  1. Kebutuhan Fisiologis, yang meliputi kebutuhan akan oksigen, cairan dan nutrisi
  2. Kebutuhan akan Rasa Aman Nyaman
  3. Kebutuhan akan Rasa Cinta dan Memiliki
  4. Kebutuhan akan Harga diri
  5. Kebutuhan akan Aktualisasi Diri

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan : Pengertian, Fungsi, Tujuan dan Tahapan Askep



Hal tersebut sejalan dan sesuai dengan pengertian proses keperawatan menurut beberapa ahli yaitu :

1. Pengertian Proses Keperawatan Menurut Ali (1997)

Proses Keperawatan adalah metode asuhan keperawatan yang ilmiah, sistematis, dinamis dan terus-menerus serta berkesinambungan dalam rangka pemecahan masalah kesehatan pasien/klien, dimulai dari Pengkajian (Pengumpulan Data, Analisis Data dan Penentuan Masalah), Diagnosis Keperawatan, Pelaksanaan dan Penilaian Tindakan keperawatan (Evaluasi).

2. Asuhan keperawatan (DPP PPNI, 1999)

Suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktek keperawatan yang langsung diberikan kepada klien pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan, dalam upaya pemenuhan KDM, dengan menggunakan metodologi proses keperawatan, berpedoman pada standar keperawatan, dilandasi etik dan etika keperawatan, dalam lingkup wewenang serta tanggung jawab keperawatan.

3. Pengertian Proses Keperawatan Menurut Iyer et al, 1996

Proses keperawatan adalah suatu metoda di mana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan. Hal ini bisa disebut sebagai suatu pendekatan problem solving yang memerlukan ilmu, tehnik dan ketrampilan interpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien / keluarga. Proses keperawatan terdiri dari lima tahap yang sequensial dan berhubungan : pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

4. Pengertian Proses Keperawatan Menurut Hidayat, 2004.95

Proses keperawatan merupakan cara yang sistematis yang dilakukan oleh perawat bersama klien dalam menentukan kebutuhan asuhan keperawatan dengan melakukan pengkajian, menentukan diagnosis, merencanakan tindakan yang akan dilakukan, melaksanakan tindakan serta mengevaluasi hasil asuhan yang telah diberikan dengan berfokus pasa klien, berorentasi pada tujuan pada setiap tahap saling terjadi ketergantungan dan saling berhubungan.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan asuhan keperawatan adalah seluruh rangkaian proses keperawatan yang diberikan kepada pasien yang dimulai dari Pengkajian, Diagnosa, Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi dengan beradasarkan kepada kiat dan ilmu keperawatan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar pasien dan memperbaiki atau memelihara derajat kesehatan yang optimal.

Fungsi Asuhan Keperawatan

Fungsi proses keperawatan memiliki beberapa fungsi , antara lain:
  1. Untuk memberikan pedoman dan bimbingan sistematis dan ilmiah bagi tenaga keperawatan dalam memcahkan masalah klien melalui asuhan keperawatan.
  2. Untuk memberi ciri profesional dengan pemberian asuhan keperawatan melalui pendekatan pemecahan masalah dan pendekatan komunikasi yang efektif dan efisien.
  3. Untuk memberikan kebebasan pada pasien untuk mendapatkan pelayanan yang optimal sesuai dengan kebutuhan dalam kemandirian dalam bidang kesehatan.

Tujuan Asuhan Keperawatan

Asuhan Keperawatan yang diberikan kepada pasien melalui proses keperawatan mempunyai beberapa tujuan, yaitu :
  1. Untuk membantu individu agar dapat mandiri
  2. Untuk mengajak individu agar bisa berpartisipasi dalam rangka memperbaiki atau memelihara derajat kesehatannya
  3. Untuk membantu individu mengembangkan potensi dalam memelihara kesehatan secara optimal
  4. Untuk membantu individu agar tidak tergandung kepada orang lain dalam memelihara kesehatannya
  5. Untuk membantu individu memperoleh derajat kesehatan yang optimal

Proses Keperawatan / Tahapan Asuhan Keperawatan

Sesuai dengan pengertian yang telah disebutkan diatas bahwa, Proses Keperawatan adalah suatu metoda di mana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan. Hal ini bisa disebut sebagai suatu pendekatan problem solving yang memerlukan ilmu, tehnik dan ketrampilan interpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien / keluarga. Proses keperawatan terdiri dari lima tahap yang sequensial dan berhubungan : pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

Ke lima tahap tersebut telah diresmikan dan diterapkan pada seluruh rumah sakit melalui SK Direktur Jenderal Pelayanan Medik No. YM.00.03.2.6.7637 tahun 1993.

Karakteristik / Ciri Khas Proses Keperawatan

Adapun karakteristik proses keperawatan menurut Hidayat (2004.97) sebagai berikut;
  1. Proses keperawatan merupakan metode pemecahan masalah yang bersifat terbuka dan fleksibel dalam memenuhi kebutuhan klien, juga selalu berkembang terhadap masalah yang ada dan mengikuti perkembangan zaman.
  2. Proses keperawatan dapat dilakukan melalui pendekatan secara individual dari pemenuhan kebutuhan pasien.
  3. Melalui proses keperawatan terdapat beberapa permasalahan yang sangan perlu direncanakan.
  4. Melalui proses keperawatan akan diarahkan tujuan pelayanan keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia.
  5. Proses keperawatan itu sendiri merupakan suatu siklus yang saling berhubungan antara tahap satu dengan yang lain dan tidak berdiri sendiri.
  6. Adanya proses keperawatan penentuan masalah akan lebih cepat diatasi mengingat didalam proses keperawatan terdapat penekanan validasi data serta adanya pembuktian masalah dan menekankan pada umpan balik atau pengkajian ulang dalam mengetahui kebutuhan dasar secara komperhensif. 

Manfaat Proses Keperawatan

Manfaat proses keperawatan menurut Gaffar (1999)  meliputi beberapa aspek yaitu :

1. Aspek Administrasif

Kegiatan dokumentasi keperawatan yang berupa pencatatan dan pelaporan akan menjamin kualitas asuhan keperawatan karena dari kegiatan ini dapat dikomunikasikan dan dievaluasi perkembangan klien.

2. Aspek Hukum

Asuhan keperawatan didasarkan pada investigasi, observasi dan analisa, yang bertujuan untuk memberikan jaminan agar masalah kesehatan klien teridentifikasi sehingga intervensi yang dilakukan lebih efektif dan dapat dipertanggung jawabkan, sehingga akan memberikan perlindungan dan kepastian hukum bagi klien.

3. Aspek Ekonomi

Proses keperawatan akan menjamin asuhan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan kesehatan klien, sehingga lebih efisien dari segi biaya karena lebih proposional dalam arti sesuai kebutuhan klien.

4. Aspek Pendidikan dan Pelatihan

Keperawatan tidak dapat diterapkan tanpa pendidikan dan pelatihan, sebaliknya pendidikan keperawatan tidak akan berkembang dengan baik tanpa asuhan dari proses keperawatan sebagai metoda ilmiah pemberian asuhan keperawatan.


Tahapan Proses Asuhan Keperawatan meliputi :

1. Tahap Pengkajian

Asuhan keperawatan yang sempurna memerlukan data lengkap yang dikumpulkan secara terus menerus yang berkaitan dnegan keadaan untuk menentukan kebutuhan asuhan keperawatan. Data yang dikumpulkan harus bermanfaar bagi semua anggota tim kesehatan. Komponen data pengkajian keperawatan tersebut meliputi :
  • Pengumpulan data dengan kriteria : menggunakan format yang baku, sistematis, diisi sesuai dengan item yang tersedia, aktual dan absah (valid).
  • Pengelompokkan data dengan kriteria : data biologis, data psikologis, data sosial, data spiritual.
  • Perumusan masalah dengan kriteria : kesenjangan antara status kesehatan dengan norma dan pola fungsi kehidupan, perumusan masalah ditunjang oleh data yang telah dikumpulkan.

2. Tahap Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan dirumuskan berdasarkan data status kesehatan yang dianalisis dan dibandingkan dengan norma fungsi kehidupan pasien dengan kriteria sebagai berikut:
  • Diagnosa keperawatan dihubungkan dengan penyebab kesenjangan dan pemenuhan kebutuhan pasien
  • Diagnosa keperawatan dibuat sesuai dengan wewenang perawat
Komponen terdiri dari masalah, penyebab/gejala (PES) atau terdiri dari masalah dan penyebab (PE), yang bersifat aktual apabila masalah kesehatan pasien sudah nyata terjadi, bersifat potensial apabila masalah kesehatan pasien kemungkinan besar akan terjadi, dapat ditanggulangi oleh perawat.

3. Tahap Perencanaan (Intervensi)

Perencanaan keperawatan disusun berdasarkan diagnosa keperawatan yang meliputi beberapa point seperti :
  • Prioritas asuhan keperawatan dengan kriteria : Spesifik, bisa diukur, bisa dicapai, realistik, ada batas waktu
  • Tujuan asuhan keperawatan dengan kriteria : spesifik, bisa diukur, bisa dicapai, realistik, ada batas waktu.
  • Rencana tindakan dengan kriteria yang disusun berdasarkan tujuan asuhan keperawatan, melibatkan paien/keluarga, mempertimbangkan latar belakang budaya pasien/keluarga, menentukan alternative tindakan yang tepat, mempertimbangkan kebijaksaan dan peraturan yang berlaku, lingkungan, sumberdaya, dan fasilitas yang ada, menjamin rasa aman dan nyaman bagi pasien, kalimat intruksi, ringkas, tegas dengan bahasanya mudah dimengerti.

4. Pelaksanaan (Implementasi)

Tahap implementasi keperawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan spesifik. Tahap pelaksanan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing order untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien.

Tahap implementasi asuhan keperawatan meliputi 3 tahapan, antara lain:
  • Tahap 1 : Persiapan. Tahap ini menuntut perawat untuk mengevaluasi yang akan di indentifikasi pada tahap perencanaan.
  • Tahap 2: Intervensi. Tahap ini berfokus pada tindakan perawatan yaitu kegiatan dan pelaksanaan tindakna dari perencanaan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional. Pendekatan tindakan keperawatan meliputi tindakan independen, dependen, dan interdependen.

5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi keperawatan dilakukan secara periodik, sistematis dan berencana untuk menilai perkembangan pasien dengan kriteria : setiap tindakan keperawatan dilakukan evaluasi terhadap indikator yang ada pada rumusan tujuan, yang selanjutnya hasil evaluasi segera dicatat dan dikomunikasikan, evaluasi melibatkan pasien, keluarga dan tim kesehatan, evaluasi dilakukan sesuai standar.

Setelah proses tahapan awal hingga tahap evaluasi selesai, maka seluruh tindakan harus didokumentasikan dengan benar dalam dokumentasi keperawatan. Dokumentasi keperawatan adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak yang dapat diandalkan sebagai catatan tentang bukti bagi individu yang berwenang (potter 2005).

Konsep Dokumentasi Asuhan Keperawatan

Dokumentasi keperawatan merupakan bukti pencatatan dan pelaporan yang dimiliki perawat dalam melakukan catatan perawatan yang berguna untuk kepentingan klien, perawat, dan tim kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan dengan dasar komunikasi yang akurat dan lengkap secara tertulis dengan tanggung jawab perawat.

Dokumentasi ini penting karena pelayanan keperawatan yang diberikan pada klien membutuhkan catatan dan pelaporan  yang dapat digunakan sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat dari berbagai kemungkinan masalah yang dialami klien baik masalah kepuasan maupun ketidak puasan terhadap pelayanan yang diberikan. 
Kegunaan Dokumentasi.

Dokumentasi keperawatan menurut Hidayat (2002. 6-7) mempunyai beberapa kegunaan bagi perawat dan klien antara lain:

1. Sebagai Alat Komunikasi

Dokumentasi dalam memberian asuhan keperawatan yang terkoordinasi dengan baik akan menghindari atau mencegah informasi yang berulang. Kesalahan juga akan berkurang sehingga dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan. Disamping itu komunikasi juga dapat dilakukan secara efektif dan efisien.

2. Sebagai Mekanisme Pertanggung Gugatan

Standar dokumentasi memuat aturan atau ketentuan tentang pelaksanaan pendokumentasian. Oleh karena itu kualitas kebenaran standar pendokumentasiaan akan mudah dipertanggung jawabkan dan dapat digunakan sebagai perlindungan atas gugatan karena sudah memiliki standar hukum.

3. Metode Pengumpulan Data

Dokumentasi dapat digunakan untuk melihat data-data pasien tentang kemajuan atau perkembangan dari pasien secara objektif dan mendeteksi kecenderungan yang mungkin terjadi dapat digunakan juga sebagai bahan penelitian, karena data-datanya otentik dan dapat dibuktikan kebenarannya. Selain itu dokumentasi dapat digunakan sebagai data statistik.

4. Sarana Pelayanan Keperawatan Secara Individual

Tujuan ini merupakan integrasi dari berbagai aspek klien tentang kebutuhan terhadap pelayanan keperawatan yang meliputi kebutuhan bio, spiko, sosial dan spiritual sehingga individu dapat merasakan manfaat dari pelayanan keperawatan.

5. Sarana Evaluasi

Hasil akhir dari asuhan keperawatan yang telah didokumentasikan adalah evaluasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan tindakan keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan.

6. Sarana Meningkatkan Kerjasama Antar Tim Kesehatan

Melalui dokumentasi, tenaga dokter, ahli gizi, fisioterapi dan tenaga kesehatan akan saling kerjasama dalam memberikan tindakan yang berhubungan dengan klien. Karena hanya lewat bukti-bukti otentik dari tindakan yang telah dilaksanakan kegiatan tersebut akan berjalan secara professional.

7. Sarana Pendidikan Lanjutan

Bukti yang telah ada menuntut adanya sistem pendidikan yang lebih baik dan terarah sesuai dengan program yang diinginkan klien. Khusus bagi tenaga perawat bukti tersebut dapat digunakan sebagai alat untuk meningkatkan pendidikan lanjutan tentang keperawatan.

8. Dokumentasi Berguna Untuk Memantau Kualitas Pelayanan Keperawatan

Yang telah diberikan sehubungan dengan kompetensi dalam melaksanakan asuhan keperawatan.        

Model Dokumentasi Keperawatan

Ada beberapa model dokumentasi keperawatan menurut Nursalam (2001, 125-133)  antara lain :

1. SOR ( Source – Oriented Record ) / Catatan Berorientasi pada Sumber

Model ini menempatkan catatan atas dasar disiplin orang atau yang mengelola pencatatan. Bagian penerimaan klien mempunyai lembar isian tersendiri, dokter menggunakan lembar untuk mencatat instruksi, lembaran riwayat penyakit dan perkembangan penyakit, perawat menggunakan catatan keperawatan, begitu pula disiplin lain mempunyai catatan masing-masing.

Catatan berorientasi pada lima komponen yaitu :
  • Lembar penerimaan berisi biodata
  • Lembar order dokter
  • Lembar riwayat medik / penyakit
  • Catatan perawat
  • Catatan dan laporan khusus

2. POR ( Problem – Oriented Record ) / Catatan Berorientasi pada Masalah

Model ini memusatkan data tentang didokumentasikan dan disusun menurut masalah klien. Sistem dokumentasi jenis ini mengintegrasikan semua data mengenai masalah yang dikumpulkan oleh dokter, perawat atau tenaga kesehatan lain yang terlibat dalam pemberian layanan kepada klien.

Model ini terdiri dari empat komponen yaitu :
  • Data dasar, ini berisi semua informasi yang telah didapat dari klien ketika masuk rumah sakit yang mencakup pengkajian, riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan hasil laboratorium.
  • Daftar masalah, ini berisi tentang masalah yang telah diidentifikasi dari data dasar. Selanjutnya masalah disusun secara kronologis sesuai tanggal identifikasi masalah.
  • Daftar awal rencana asuhan, ditulis oleh tenaga yang menyusun daftar masalah, dokter menulis instruksi, perawat menulis instruksi keperawatan atau rencana asuhan keperawatan.
  • Catatan perkembangan, berisi perkembangan / kemajuan dari tiap-tiap masalah yang telah dilakukan tindakan dan disusun oleh semua anggota yang terlibat.

3. PROGRES NOTE. (Catatan Berorientasi pada Perkembangan/ Kemajuan )

Catatan perkembangan  adalah catatan perawat “ Flowsheet “ dan catatan pemulangan atau ringkasan rujukan. Ketiga jenis ini digunakan baik pada sistem dokumentasi yang berorientasi pada sumber maupun berorientasi pada masalah.
  • Catatan perawat harus ditulis tiap 24 jam meliputi : Pengkajian, tindakan keperawatan yang bersifat mandiri, tindakan keperawatan yang bersifat pendelegasian, evaluasi dari tiap tindakan keperawatan, tindakan yang dilakukan dokter dan kunjungan dari beberapa tim kesehatan yang lain.
  • Lembar alur (Flowsheet) merupakan cara tercepat dan paling efisien untuk mencatat informasi. Selain itu tenaga kesehatan akan dengan mudah mengetahui keadaan klien hanya dengan melihat grafik yang terdapat pada flowsheet.
  • Catatan pemulangan dan ringkasan rujukan, dipersiapkan ketika klien akan dipulangkan atau dipindahkan ketempat perawatan lainnya guna perawatan lanjutan. Dokumen ini meliputi masalah kesehatan yang masih aktif, pengobatan terachir, penanganan yang harus diteruskan, kebiasaan makanan  dan istirahat kemampuan untuk asuhan mandiri. Pencatatan pemulangan ini ditujukan  untuk tenaga kesehatan yang akan meneruskan home care dan juga informasi pada klien.

4. CBE ( Charting By Exception )

Sistem dokumentasi yang hanya mencatat secara naratif dari hasil atau penemuan yang menyimpang dari keadaan normal atau standar.

CBE mengintegrasikan 2 komponen yaitu :
  • Folwsheet yang berupa kesimpulan penemuan yang penting dan menjabarkan indikator pengkajian dan penemuan termasuk instruksi dokter/perawat, grafik, catatan pendidikan dan pencatatan pemulangan klien.
  • Dokumentasi dilakukan berdasarkan standar praktek keperawatan, sehingga mengurangi pencatatan tentang hal rutin secara berulang kali. 

5. PIE ( Problem Intervention & Evaluation )

Sistem pencatatan adalah suatu pendekatan orientasi-proses pada dokumentasi dengan penekanan pada proses keperawatan dan diagnosa keperawatan. 

6. FOCUS ( Proces Oriented System )

Suatu proses–orientasi dan klien-fokus. Hal ini digunakan proses keperawatan untuk mengorganisir dokumentasi asuhan.

***

Semoga bermanfaat!

2 Komentar untuk "Konsep Dasar Asuhan Keperawatan : Pengertian, Fungsi, Tujuan dan Tahapan Askep"

  1. mantap.. ilmu baru nih kak..
    menjadi perawat itu harus teliti ya, terutama dlm mendiagnosis pasien

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalo ga teliti ntar disangka malpraktik ... #nasibtenakes hehe

      Hapus