Hidup Tenang Tanpa Hutang : Bayar Lunas sampai Tuntas!

Kapan terakhir kalinya Anda tidak memikirkan cicilan bulanan? Tahun lalu? 3 tahun yang lalu, atau 5 tahun yang lalu?

Bagaimana persisnya perasaan yang Anda rasakan saat itu?

Berbicara masalah hutang, sebenarnya suatu hal yang kurang nyaman untuk dibicarakan. Apalagi diumbar kesana kemari.

Namun percayalah, jika Anda saat ini sedang mempunyai hutang, saran saya : jadikan prioritas bayar lunas dengan tuntas!

Hutang, seperti halnya kecelakaan lalu lintas. Mau tidak mau Anda harus masuk ke IGD. Ditangani dengan cepat dan tepat. Jika tidak, nyawa taruhannya.

Pun dengan hutang.

Saya tidak akan membahas tips atau trik mengenai cara cepat melunasi hutang atau apapun yang berkaitan dengan hal tersebut. Karena ya semuanya sama saja, hanya teori belaka.

Saran saya terkait hutang hanya satu : Jadikan prioritas bayar lunas hingga tuntas!

Karena ...

HUTANG BUKANLAH SESUATU YANG HARUS ANDA "KERJAKAN". HUTANG ADALAH SEBUAH MASALAH BESAR YANG HARUS ANDA "SELESAIKAN"!

Hidup Tenang Tanpa Hutang : Bayar Lunas sampai Tuntas!

Mari saya ilustrasikan kalimat diatas dengan beberapa contoh berikut ini;

Suatu waktu, saya meminjamkan uang kepada salah satu teman saya untuk membayar uang semesteran kuliah yang terlanjur ia pakai. Cukup lumayan besar, hampir setengah dari gaji bulanan saya. Walaupun teman saya tersebut tidak memberi jaminan deadline pembayaran, namun bagi saya tidak masalah karena saya punya cukup uang sisa untuk memenuhi pengeluaran saya dalam beberpa bulan kedepan.

Setelah beberapa waktu berlalu, saya tidak mendapatkan kabar apapun terkait pinjaman tersebut. Pun, saya tidak menanyakan atau menagihnya. Saya fikir bahwa teman saya memang belum punya "cukup" uang untuk membayar pinjaman tersebut.

Namun suatu hari saya cukup terkejut melihat bagaimana teman tersebut memiliki kehidupan yang saya lihat "seperti tidak punya beban". Masih bisa hidup "normal" dengan nongkrong-nongkrong di kafe, pergi nonton dan jalan-jalan meskipun uang pinjaman dari saya belum dikembalikan.

For me, sebenarnya tidak terlalu masalah karena toh ia lebih dari sekedar teman. Ia adalah seorang sahabat. Namun, saya mempelajari satu hal bahwa terdapat beberapa perbedaan pendapat dan pandangan mengenai hutang dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam kesempatan lainnya, saya pernah mengunjungi salah satu teman saya - sudah menikah. (Jangan tanya saya kapan, doakan saja). Saya cukup terkejut dengan perubahan yang terjadi dengannya setelah menikah beberapa bulan yang lalu.

Datang kerumahnya saya disuguhi dengan pemandangan Honda Jazz putih bersih yang terparkir dipingir jalan tepat didepan rumahnya. Selidik punya selidik, mobil tersebut kredit 5 tahun, 3 bulan yang lalu baru datang. Ia bercerita bahwa untuk membayar cicilan mobil tersebut, Ia dan istri harus bekerja sampingan selepas kerja.

Beberapa waktu kemudian, istrinya datang, ditangannya 2 jinjing keresek putih lumayan besar, abis belanja, saya fikir. Isinya macam-macam. Beberapa buah-buahan, cemilan, susu, dan kaset DVD film serta beberapa buah minuman kaleng.

Bagi sebagian besar orang, hal tersebut terlihat normal. Namun bagi saya, membeli buah-buahan, cemilan, susu dan kaset DVD terlihat mempunyai prioritas yang lebih tinggi ketimbang membayar cicilan mobil.

Kedunya berfikir bahwa mereka bekerja sampingan untuk menambah-nambah cicilan mobil setiap bulannya, namun pada kenyataannya kerja sampingan tersebut hanyalah untuk membeli buah-buahan, cemilan, susu dan kaset DVD.

Akibatnya, dengan bekerja sampingan bagaimanapun, cicilan tiap bulan tetap akan menjadi beban fikiran setiap bulan. Dan orang yang mempunyai beban fikiran, bukanlah orang yang bahagia, sekalipun punya mobil mewah.

Jangankan berfikir untuk menyimpan atau menabung, bayar cicilan tiap bulan saja rasanya sudah tak sanggup untuk ditanggung.

That's kenapa saya menyebut bahwa hutang adalah sebuah masalah yang besar.

If you borrow even one dollar for anything other than your primary house or a profitable investment, the very next dollar you can get your hands on should go to pating that back.

Namun, sebuah pepatah mengatakan : Pengalaman adalah guru yang terbaik.

Sehingga, there's nothing wrong with making errors. Justru, dengan berbuat sesuatu yang salah, Anda dapat mengambil hikmah.

Masalah itu bisa menjadi Musibah, jika Anda hanya meratapinya tanpa mau berubah. Tapi masalah juga bisa menjadi anugerah, jika Anda mau berubah dan mengambil hikmah darinya.

Beberapa dari Anda mungkin akan berkata :
Bicara dan menulis itu gampang, yang susah mempraktikannya. Jaman sekarang kita tuh harus hidup sesuai tuntutan jaman. Smartphone, motor atau mobil kan biar hasil kerja kita ada bekasnya. Karena uang itu untuk dinikmati. Kerja itu untuk menikmati hasil kerja. Buat apa capek-capek kerja kalau tidak ada bekasnya, atau tidak bisa dinikmati?!

I'll say Salah Kaprah. Wrong Attitude! Setiap rupiah yang Anda bayarkan per bulan untuk mencicil sesuatu, adalah sebuah kerugian dan kehilangan yang yang seharusnya bisa Anda belikan sesuatu secara CASH!

Bayangkan ...

Biasanya, ketika Anda berniat mengajukan kredit untuk sebuah mobil baru, maka Anda ada beberapa syarat yang harus Anda penuhi. Salah satunya adalah uang muka.

Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia, pengajuan uang muka kredit kendaran adalah sebesar minimal 25% - 30% dari harga kendaraan yang bersangkutan.

Sebagai contoh, sebutlah harga mobil baru Rp. 200 juta. Maka minimal Anda harus memiliki uang muka kredit sebesar Rp. 50-60 juta. Jika lebih rendah harganya, maka uang muka juga lebih rendah. Contoh, jika harganya Rp. 100 juta, maka uang mukanya sekitar Rp. 30 jutaan.

Mari kalkulasikan. Saya ambil contoh harganya Rp. 100 juta. Anda ambil kredit selama 3 tahun. Maka :

Harga Mobil : Rp. 100.000.000,-
Tenor : 3 tahun (36 bulan)
Suku bunga per tahun : 10%

Kalkulasi Cicilan Perbulan :
  • Uang muka (DP) : Harga mobil x 30%  = 30.000.000
  • Pokok utang (PU) : Harga Mobil - DP = 70.000.000
  • Cicilan/bulan : (PU x (suku bunga x tenor dalam tahun) + PU : 36 bulan
    • : (Rp. 70.000.000 x(10% x 3) + Rp. 70.000.000 : 36
    • : Rp. 24.000.000 + 70.000.000 : 36
    • : Rp. 2.611.111 / bulan
Belum cukup sampai disana, untuk bisa membawa mobil kita juga diharuskan untuk membayar DP + cicilan pertama + asuransi + administrasi. Jadi yang harus dibayar adalah :

Rp. 30.000.000 + Rp. 2.611.111 + Rp. 10.000.000 + Rp. 500.000 : Rp. 43.111.111

Coba kita hitung keseluruhan uang yang harus dikeluarkan setelah lunas :
  • Pembayaran pertama (PP) : Rp. 43.111.111
  • Pembayaran kredit selama 35 bulan (Rp. 2.611.111 x 35) (PK) : Rp. 91.388.885
  • Total : PP + PK : 134.499.996
Selisih dengan harga mobil : Rp. 34.499.996

Artinya, selama 3 tahun, Anda sudah menghambur-hamburkan uang sebesar Rp. 34 juta lebih, atau sekitar Rp. 950 ribuan/bulan.

Dan ini belum termasuk biaya yang harus Anda keluarkan setiap bulannya seperti bahan bakar kendaran, atau biaya perawatan.

Uang sebanyak itu, tentunya akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk hal-hal yang produktif semisal investasi atau bahkan modal usaha. Alih-alih Anda harus mengeluarkan uang, justru Anda akan mendapatkan uang lebih dari hasil invest atau usaha tersebut.

Apakah itu artinya kita rugi Rp. 34 juta?

Secara materi, bisa saya katakan bahwa hal tersebut bukanlah sebuah kerugian. Sekali lagi, secara materi ya.

Logikanya sederhana, ibarat kita membeli makanan dengan cara delivery. Sebutlah pizza atau sejenisnya. Tentunya, harga yang kita bayar akan lebih mahal ketimbang membeli langsung di outletnya, benar?

Kredit mobil atau cicilan apapun itu, prinsipnya seperti itu. Dan sekali lagi, ini jawaban secara materi.

Namun, secara psikologis, secara sosiologis, dan saya pribadi mempunyai pandangan bahwa : ya, itu adalah sebuah kerugian psikologis dan sosiologis yang amat sangat rugi.

Kenapa?
  • Rp. 34 juta adalah harga yang harus saya bayar agar saya terus memikirkan beban cicilan setiap bulannya. 
  • Rp. 34 juta adalah sebuah harga yang harus saya bayar untuk membeli kegelisahan saya setiap bulannya. 
  • Rp. 34 juta adalah harga yang harus saya bayar untuk menyita waktu saya setiap bulannya demi memikirkan jalan bagaimana saya bisa mengumpulkan cicilan setiap bulannya.

Dan saya katakan, itu adalah sebuah kerugian. Kerugian yang amat sangat. Karena bagi saya, angka Rp. 34 juta adalah angka kesabaran, yang mana jika saya bersabar sedikir saja, saya akan mampu membeli yang lebih dari yang saya dapatkan saat ini.

Contoh, saat ini dengan uang sebesar Rp. 100 juta, kita mungkin bisa membawa pulang Toyota Agya atau Brio.

Tapi, coba fikirkan, jika yang Rp. 100 juta itu kita investasikan, lalu setiap bulannya kita menyisihkan sekitar 1-2 jutaan untuk ditabungkan, dalam 3 tahun kedepan jangankan brio, BMW seri M mungkin bisa Anda beli, CASH!


Mengenai Untung Rugi Kredit Mobil, Anda bisa baca artikel saya yang berjudul : Kredit Mobil? Baca dulu Aturan Main Berikut ini agar Tidak Rugi!

Dan lagi-lagi, menjadi kaya adalah sebuah proses yang eksponensial, sebuah konsep yang sulit untuk difahami sampai Anda benar-benar menyadari bahwa sekeras apapun Anda bekerja, uang bisa bekerja lebih keras daripada yang Anda bisa lakukan.

Konsep dan perspektif inilah yang ingin saya bagikan melalui blog ini. Marilah sama-sama berkembang dan maju hingga suatu saat nanti kita bisa berteriak bersama-sama dalam satu suara : Kebebasan Finansial!

Mulailah dari hal-hal kecil, mulailah dengan membenahi keuangan Anda. Dan jika Anda punya hutang - sekecil apapun itu - jadikan prioritas bayar lunas sampai tuntas. Jangan pernah biarkan hutang membelenggu kehidupan Anda. Hutang hanyalah kemewahan semu yang hanya akan menjadi penghambat kemajuan finansial Anda.

Last but not least, sampai jumpa lagi di lain kesempatan. Semoga bermanfaat dan mari diskusi di kolom komentar. see you soon!

Hutang itu pasti. Penghasilan dari bisnis itu tidak pasti. Membayar sesuatu yang pasti dengan sesuatu yang tidak pasti adalah sebuah kebodohan.
- DewaEkaPrayoga -

2 Komentar untuk "Hidup Tenang Tanpa Hutang : Bayar Lunas sampai Tuntas!"

  1. memang lebih baik gak berhutang, hidup lbh nyaman

    BalasHapus
  2. setujuuuu bnget. aku juga lebih memilih utk melunasi hutang drpd berhutang apalagi utk kebutuhan konsumtif yg ga terlalu ptg. mnding tabung dulu, utk membeli barang yg kita mau. makanya sampe skr, aku ga pgn mas, utk nyicil rumah seperti temen2 lain. alhamdulillah pas nikah , mertua ksh rumah mereka yg kecil utk kita pakai. buatku itu cukup. ga perlu lagilah beli rumah yg baru. tp suami wkt itu pengen, dia bilang sekalian investasi.

    buatku, kalo mau investasi, mending pilih yg sesuai kemampuan. emas, reksadana, obligasi , itu lbh sesuai ama kemampuan keuanganku. akhirnya suami nyerah. kita ttp hidup tenang di rumah dr mertua, investasi jalan trus, dan hutang zero ;). hidup jauuuh lbh tenang

    BalasHapus