Cekdam Pamulihan, Eksotisme Ranukumbolo Ala Sumedang

Cekdam Pamulihan, Eksotisme Ranukumbolo Ala Sumedang

Matahari bersinar terik tepat diatas kepala kami, saat kami mencari-cari jalan menuju ke Cekdam Pamulihan. Seorang petugas parkir yang kami temui di pinggir jalan memberitahu bahwa lokasi Cekdam berada diatas kantor Kecamatan Pamulihan. "Just go stright forward, turn left to those gate and follow the path." Jawab si mamang petugas parkir yang tentunya dalam bahasa sunda.

"Ahsyiaaapp mang, bigthanks!" Jawab saya girang karena akhirnya lokasinya ketemu juga.

Kegembiraan saya juga ditambah ketika rekan saya yang sudah duluan ke lokasi memberitahu lewat telepon bahwa ia sudah sampai di lokasi.

"Saya di lokasi, jalannya tanah merah. Terus aja ke atas." Ujarnya sambil berteriak di telepon. Entah kesal, entah memang sudah kebiasaan berteriak-teriak nggak jelas di telepon.

Kantor Kecamatan pamulihan pun terlewati. 5 Menit kemudian, kami bertemu penduduk setempat yang kemudian memberitahu bahwa jalan ke Cekdam Pamulihan harus putar balik. Kurang ajar memang si mamang parkir!

"Putar balik kang, balik lagi ke Cigendel, lurus kira-kira 200 meter ada gang kecil di sebelah kanan, nah masuk kesana." Ujarnya, lagi-lagi sambil berteriak.

"Kenapa ngga buka Google Maps?" Tiba-tiba kalimat tersebut terlintas di pikiran. Entah kenapa saya merasa dongkol. Dan entah kenapa baru kepikiran untuk buka Google Maps. "Woy, buka Google Maps!" Ujar saya sambil teriak.

Riky, yang dari sejak tadi kesal karena lokasinya nggak ketemu-ketemu langsung menimpali. " Woy, kenapa nggak dari tadi!"

Cekdam Pamulihan : Danau Asri yang Memikat Hati


Cekdam Pamulihan, atau disebut juga Danau Sunyaruri, yang berarti danau yang hening sunyi sepi, merupakan salah satu Hidden Treasure - setidaknya menurut saya - yang ada di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Untuk mencapainya, kami harus berputar keliling kesana kemari kurang lebih 1 jam - karena nyasar - sebelum akhirnya harus jalan kaki sekitar 500 meter melewati :
  1. Jalan desa yang di cor sejauh kurang lebih 50 meter dari tempat penitipan motor tidak resmi
  2. Jalan setapak berbatu dengan lebar kurang dari 2 meter sejauh kira-kira 250 meter
  3. Jalan setapak berupa tanah merah dengan semak belukar di sisi kiri kanan sejauh kira-kira 200 meter
  4. Pilihan 1, 2 dan 3 benar.

Abah, begitu kami menyebut rekan kami yang tadi teriak-teriak di telepon langsung saja tancap gas begitu jalan desa yang di cor terlewati. "Paling 15 menit juga sampai." Ujarnya, kali ini nggak pakai teriak.

Mungkin lelah.

Sebenarnya, jalan menuju lokasi danau bisa dicapai menggunakan kendaraan roda, tentunya dengan melewati jalan setapak berbatu dan tanah merah. Namun, dikarenakan hari itu mendung, jadinya kami memutuskan untuk jalan kaki saja daripada nanti susah turun gara-gara jalan tanah merah yang terjal dan licin akibat hujan.

Long story short - walaupun sebetulnya di pertengahan jalan saya sempat kelelahan, jadi wis langsung cut saja - 15 menit kemudian akhirnya kami berempat sampai di lokasi. 

Dan benar saja, kabut-kabut tipis menggantung indah di tengah danau. Pemandangan hijau nan segar khas pegunung pinus ditambah sejuknya udara yang memang sudah mulai gelap karena mendung menambah eksotisnya pemandangan yang terhampar indah dihadapan kami.

Cekdam Pamulihan, Eksotisme Ranukumbolo Ala Sumedang
Riky, orang paling konyol diantara kami berempat.[doc.pribadi]

Terbayar sudah rasa kesal karena susahnya mencari lokasi. Terbayar sudah rasa capek yang masih menggelayuti kami beriringan dengan deru nafas yang mengeluarkan uap hangat tipis dari mulut.

Dan mungkin, inilah kenapa Danau Sunyaruri ini dijuluki Ranukumbolo-nya Sumedang. Sebuah eksotisme danau yang mungkin akan jarang sekali ditemukan di daerah Sumedang.

Danau ini terletak di lereng Gunung Kareumbi bagian utara, tepat di ujung selatan wilayah Desa Cimarias, Pamulihan, Kabupaten Sumedang, dan berada ditengah-tengah perbukitan yang ditumbuhi rerumputan dan pepohonan pinus.

Cekdam Pamulihan, Eksotisme Ranukumbolo Ala Sumedang
Kiri - kanan : Diky, Saya dan Abah [doc.pribadi]

Praktis, Cekdam atau Danau yang memiliki luas sebesar lapangan bola ini memiliki pemandangan yang indah dan sunyi, jauh dari hingar bingar perkotaan.

Karena memang tempat ini bukanlah tempat wisata alam resmi atau belum menjadi tempat wisata, karenanya fasilitas seperti layaknya tempat wisata belum ada. Jangankan fasilitas umum, tiket masuk pun tidak ada alias masih gratis!

Namun walaupun begitu, bagi pecinta alam dan penikmat ketinggian, Danau Sunyaruri ini memiliki kualitas yang tidak kalah dengan tempat wisata alam lainnya yang sudah dikelola secara resmi.

Terbukti, kami saja masih ingin berlama-lama menikmati eksotisme danau tersebut jika saja mendung tidak menampakan diri dan membuat kami harus bergegas untuk turun karena jalan sepatak tanah merah pasti akan sangat licin untuk dilalui.

Cekdam Pamulihan / Danau Sunyaruri

Sehingga, setelah melepas lelah, kami bergegas untuk beres-beres dan mengabadikan momen perjalanan tersebut. Sebuah perjalanan yang mengakhiri paceklik-nya jalan-jalan saya. Sebuah perjalanan yang juga akhirnya dapat mengisi kembali rubrik Traveling di blog ini.

"Setelah ini, hiking kemana lagi kita?" Ujar Diky, yang sedari tadi belum saya sebut namanya ditengah perjalanan turun pulang.

"Hayu, Gunung Gede!" Jawab Riky penuh semangat.

Saya tersenyum, mencelos. Hati kecil saya berterima kasih kepada Tuhan atas kebersamaan dan perjalanan ini. Perjalanan pertama bersama 3 orang sahabat yang mungkin akan menjadi awal dari seribu perjalanan lainnya kedepan.

Ya, perjalanan masih panjang, kawan!
Nugraha Fauzi
Indonesian Registered Nurse, Part Time Blogger, Full Time Writer, also a Budget Traveller.

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter