Leuweung Oko D'Great, Hutan Wisata Syariah yang Asyik Untuk Liburan Keluarga

Leuweung Oko D'Great, Hutan Wisata Syariah yang Asyik Untuk Liburan Keluarga

Leuweung Oko D'Great, Hutan Wisata Syariah yang Asyik Untuk Liburan Keluarga

Leuweung Oko D'Great, Hutan Wisata Syariah yang Asyik Untuk Liburan Keluarga

"Paling hanya 20 menit dari sini." Jawab teman kami, Hagi, yang pada hari Selasa kemarin melangsungkan pernikahan pertama dan terkahirnya di daerah Selaawi, Limbangan, Garut.

Jawaban tersebut menjadi penentu perjalanan wisata sambilan kami setelah sebelumnya mengantar lamaran teman kami, Hagi, dari Sumedang menuju ke Garut. Sayang rasanya kalau jauh-jauh ke Garut tapi tidak menikmati tempat wisata yang ada di sekitarnya.

Akhirnya, kami - tim rombongan - pengantar lamaran pengantin memutuskan untuk pergi ke Oko D'great yang katanya hanya berjarak sekitar 20 menit dari tempat resepsi pernikahan.

"Sekalian pulang saja, mampir dulu ke Oko." Begitu kata teman-teman.

Yo wis, setelah acara saweran dan tentunya foto-foto bersama pengantin, kami langsung menuju spot wisata Oko D'great yang terletak di Desa Cirapuhan, Kecamatan Selaawi, Garut.
Bila teman-teman berjalan dari arah Nagreg, tempat wisata ini dapat dilalui sekitar 60 menit menggunakan kendaraan beroda dua ataupun roda empat lewat jalur Limbangan-Malangbong.
Saran saya, jangan berjalan ya. Apalagi di Nagreg. Lebih baik pakai mobil atau motor saja.

Benar saja, jarak Oko D'great dari tempat resepsi pernikahan hanya berjarak sekitar 20 menit. Namun hanya sampai pinggir jalan tempat dimana plang Oko D'great berada. Karena selanjutnya, kami harus masuk ke jalan kecil pedesaan dan menembus lebatnya hutan pinus dengan jalan yang belum di aspal yang menghabiskan kurang lebih sekitar 15 menit.

Jika teman-teman pernah mengunjungi Bukit Senyum Cipada di daerah Bandung, nah jalan akses menuju Oko D'great ini sama persis seperi jalan menuju Bukit Senyum Cipada. Tanah merah dengan hamparan batu kali yang hanya cukup untuk 1 mobil MPV dan 1 buah motor.

Praktis, jalanan yang kami sebut sebagai "jalan sungai kering" tersebut membuat perut kami yang sudah penuh terisi jamuan makan di resepsi pernikahan jadi terguncang-guncang tak karuan.

"Wah, ini kalau musim penghujan bisa bahaya nih." Tukas Widi, yang saat itu menjadi supir kami menuju Oko.

Saya pun yang berniat mengabadikan perjalanan tersebut, akhirnya mengurungkan niat karena mobil tidak bisa stabil akibat jalan yang kami lalui. Belum lagi, semalam sebelumnya saya bergadang full sampai pagi. Mau tidak mau, saya harus pintar-pintar mencuri waktu-waktu istirahat. Dan jadilah selama perjalanan pergi dan pulang, saya gunakan untuk tidur.

15 menit berlalu, akhirnya kami sampai di tempat tujuan.

Setelah membayar tiket masuk mobil seharga Rp. 10.000,- kami pun memasuki pelataran parkir yang cukup luas. Dan ini masih berupa tanah merah padat. Namun karena cuaca siang itu cukup panas, jadinya kami tidak terlalu khawatir jalanan licin.

Di tempat parkir sebenarnya banyak warung-warung jajanan yang dikelola oleh warga sekitar. Namun karena panas, kami memutuskan untuk langsung masuk ke area wisata yang terletak kurang lebih 150 meter ke a arah bawah dengan membayar Rp. 5000,-/orang.

Oh ya, yang menarik ketika membayar tiket masuk, kami dijelaskan oleh mamang-mamang penjaga tiket masuk yang saya tidak tahu namanya bahwa hutan wisata ini menerapkan konsep syariah (halal) sehingga pengunjung dihimbau dan dilarang untuk membuka aurat apapun alasannya.

"Pas dengan julukan Garut sebagai kotanya para santri di Jawa Barat!" Ujar saya dalam hati.

Karena jumlah kami banyak, sekitar 15 orang, jadinya kami hanya membayar 12 orang saja sejumlah Rp. 60.000,-.

Memasuki tempat utama, sambil menuruni anak tangga yang lumayan agak panjang (sekitar 70 menteran) kami disuguhi dengan banner besar bertuliskan "Selamat Datang Peserta Reuni Akbar Alumni SMPN 1 Selaawi tahun 1995".

Udara sejuk khas pegunungan langsung menerpa kulit dan tembus menuju pori-pori yang menghadirkan suasana segar. Rasa lelah, panas, dan badmood karena jalanan yang bergelombang, akhirnya terbayar tuntas dengan udara dan pemandangan yang disajikan oleh Leuweung Oko D'great.

Walaupun bukan weekend, namun pengunjung yang datang lumayan ramai pada hari itu. Sambil berjalan menikmati pemandangan dibawah gantungan payung berawarna-warni, kami membaca beberapa plang hiasan yang cukup menarik perhatian karena tulisan-tulisannya yang terbilang nyeleneh, seperti dibawah ini ;


Terhitung, ada sekitar 15 plang kretif dan nyeleneh dengan tulisan-tulisan yang cukup membuat pengunjung ingin berfoto disana. Terutama yang jomblo. Saya sih, lebih baik jadi tukang foto saja. Toh sudah melepas gelar jomblo 4 bulan yang lalu. Wkwkwkwkwk


Fasilitas di Leuweung Oko d'great ini lumayan lengkap. Mulai dari mushala, pondok bambu (saung) untuk kumpul dan botram, warung-warung jajanan, fasilitas wisata yang instagrammable, serta yang saya paling suka adalah ayunan hammock yang bisa disewa pengunjung mulai dari Rp. 10.000,-.

Lebatnya hutan pinus dan segarnya pemandangan sekitar membuat tempat penyewaan hammock ini laris manis. Tempatnya berada di ujung selatan dengan view langsung ke bukit yang ada di seberang leuweung oko sehingga pas sekali untuk memasang hammock disana.

Namun ternyata tidak sampai disitu, lebih jauh ke arah selatan, tepat di pinggir atau lamping jurang, terdapat spot wisata yang tidak kalah menarik.

Dengan membayar lagi sebesar Rp. 5000,-/orang, pengunjung bisa menikmati spot selfie yang ada disini berupa kapal perahu, sapu harry potter, dan juga spot-spot selfie yang cocok untuk dipajang di instagram.

pesona leuweung oko kabupaten garut, jawa barat

Leuweung Oko D'Greatalamat leuweung oko


tiket masuk leuweung oko

leuweung oko limbangan

lokasi leuweung oko

Leuweung Oko D'great Insight :

  1. Lokasi Leuweung Oko D'Great : Desa Cirapuhan, Kecamatan Selaawi, Garut.
  2. Tiket Masuk Leuweung Oko D'Great :
    • Mobil : Rp. 10.000/mobil
    • Motor : Rp. 5000/motor
    • HTM Utama : Rp. 5000/orang
    • HTM Spot Lamping Jurang : Rp. 5000/orang
    • Sewa hammock : Rp. 10.000/1 hammock
  3. Pengelola Leuweung Oko D'Great : Dinas Perhutani Kab. Garut & Alumni SMPN 1 Selaawi tahun 1995
Sambil melepas lelah dan menikmati segarnya udara, saya berbincang-bincang dengan salah seorang penjaga warung yang ada disana. Berikut beberapa hal yang saya dapatkan dari si mamang penjaga warung yang untuk kesekian kalinya saya tidak tahu namanya ;
  1. Dinamakan Oko D'Great karena hutan wisata ini bernama Leuweung (hutan) Oko pada asalnya.
  2. Dikelola atas inisiatif para pengurus Alumni SMPN 1 Selaawi angkatan 95 bersama dengan Dinas Perhutani Kab. Garut
  3. Leuweung Oko D'great telah dibuka sejak bulan Oktober 2017 lalu dengan pengunjung mencapai 1000-2000 pengunjung setiap pekannya
  4. Leuweung Oko D'Great merupakan tempat wisata berkonsep syariah pertama yang ada di Kabupaten Garut
  5. Rencana kedepan, pihak pengelola akan membuka jalan menuju Air Terjun dan Situ Cikujang yang mempunyai tinggi sekitar 15 meter lebih yang berada di sebelah selatan Leuweung Oko D'Great
  6. Selain itu, tempat berkuda dan panahan juga sedang dikembangkan oleh pihak pengelola.
Nah itulah kiranya pengalaman dan informasi berkaitan dengan Leuweung Oko D'great. Setelah puas menikmati Leuweung Oko dengan segala pernak pernik wisata-nya, sekitar pukul 13.00 kami memutuskan untuk pulang.

Puas rasanya, walaupun medan yang ditempuh sangatlah kurang mendukung untuk sebuah jalan menuju tempat wisata. Namun justru itulah letak keseruannya. Overall, ini tempat recommended banget buat teman-teman yang berniat untuk liburan akhir pekan bersama keluarga, istri dan anak ataupun outbond dan family gathering perusahaan.

Bagaimana? Tertarik untuk mengunjungi Leuweung Oko D'great?
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

2 komentar

Itu foto bertiga yang disapu kok bisa melayang gitu ya? Editan atau gimana?

Balas

sekarang emang lagi hits ya wisata seperti ini.

Balas

Komentar Anda adalah tanggapan pribadi, kami berhak menghapus komentar yang mengandung kata-kata pelecehan, intimidasi, dan SARA. Terima kasih.

Advertiser