101+ Tanya Jawab Tentang Masalah Pemasangan Infus yang Sering Terjadi

Permasalahan terkait infusan memang seringkali mewarnai kehidupan sehari-hari seorang perawat. Apalagi yang bertugas di rawat inap.

Lucunya, permasalahan mengenai infusan ini terhitung sering terjadi. Baru 5 menit dipasang, keluarga pasien sudah mendatangi perawat;

Sus, infusannya tidak jalan ...

... atau,

Sus, selang infusnya ada darahnya ...

... atau,

Sus, infusannya terlepas!

Cukup mengganggu sebenarnya. Apalagi jika infusan sampai terlepas. Karena memasang infusan itu bisa dibilang mudah tapi sulit.

Mudahnya kalau pasien kooperatif dan pembuluh darah terlihat jelas. Susahnya, ketika pasien tidak kooperatif, cemas, atau bahkan jika pasien dehidrasi, maka pembuluh darah akan mengecil sebagai respon alamiah dari tubuh manusia.

Selain itu, pekerjaan perawat di rawat inap terbilang cukup hectic. Menerima pasien dari IGD dan poliklinik, menulis rekam medis pasien, melakukan tindakan intruksi dari tenaga kesehatan lain, dan masih banyak tindakan-tindakan lainnya yang cukup menguras tenaga.

Karena itulah artikel ini dibuat.

Semua pertanyaan dan jawaban disini, mudah-mudahan akan bisa menjembatani harmonisnya hubungan perawat-pasien khususnya ketika pemasangan infus.

Lebih jauh, semoga artikel ini bisa menjadi pengetahuan baik untuk perawat ataupun pasien sehingga keduanya bisa saling mengerti dan memahami.

Pertanyaan yang saya tulis disini berdasarkan keluhan-keluhan yang seringkali dialami oleh pasien, dan jawaban yang saya berikan disini berdasarkan kepada analisa, artikel ilmiah, dan pengalaman saya selama 1 tahun bekerja di rawat inap dan 1 tahun menjadi perawat freelance di Bandung.

Oh ya, jika ada pertanyaan yang belum saya cantumkan disini, silahkan gunakan kolom komentar dibawah. So here we go!

1. Kenapa harus di infus?


Ada beberapa kesalahfahaman yang terjadi mengenai pemasangan infus ini. Terutama dari sisi pasien. Banyak yang menganggap bahwa setiap orang yang masuk rumah sakit harus dilakukan pemasangan infus.

Sebenarnya tidak selalu.

Karena tujuan pemasangan infus sendiri yaitu untuk ;
  1. Mengganti cairan tubuh yang terbuang
  2. Mempertahankan keseimbangan elektrolit
  3. Kebutuhan glukosa sebagai energi
  4. Jalur pemberian obat intravena

Jadi, jika teman-teman tidak mengalami masalah yang berkaitan dengan ke 4 hal diatas, teman-teman tidak harus di infus.

Nah kebanyakan, di rumah sakit, terutama di rawat inap, pemasangan infus hanyalah untuk mempermudah pemberian obat (jalur pemberian obat intravena dan atau titrasi obat-obatan).

Karena kasian juga pasiennya jika tiap obat yang diberikan harus dilakukan injeksi langsung. Oleh karena itu, untuk meminimalisir tindakan injeksi langsung, dipasanglah infusan.

Hal ini juga akan menjawab pertanyaan kedua yaitu ;

2. Kenapa infusan di stop?


Kemungkinannya ada 2. Pertama, teman-teman sudah tidak memerlukan lagi cairan infus, atau ...

Kedua, teman-teman sudah terlalu banyak dimasuki cairan infus. Sehingga infusannya di stop, dan baru dinyalakan kembali ketika akan memberikan obat.

Oh ya, kebanyakan cairan infus yang masuk bukannya bagus lho, malah bisa menyebabkan bengkak-bengkak!

3. Kenapa infusan macet?


Ada beberapa penyebab yang dapat menyebabkan infusan macet, diantaranya ;
  1. Posisi tangan, usahakan tangan berada serendah mungkin terhadap kantung cairan infus. Karena infusan menggunakan prinsip gravitasi.
  2. Selang terjepit, periksa apakah ada selang yang terjepit atau tertindih sesuatu
  3. Adanya sumbatan dalam pembuluh darah (blood clot) dekat dengan ujung infusan

Berikut adalah ilustrasinya :

pemasangan infus

Sebagai pasien, hal yang bisa dilakukan ketika infusan macet dan terdapat kemerahan serta bengkak pada lokasi infusan, segera panggil perawat. Namun jangan panik. Karena ini tidak akan menimbulkan efek yang serius jika ditangani dengan tepat.

Untuk rekan sejawat perawat, yang fresh graduate terutama, jangan pernah memasukan cairan apapun terutama jika dicurigai terdapat sumbatan darah.

Teman-teman bisa melakukan pijatan lembut disepanjang pembuluh darah, memberikan kompres hangat, atau jika sudah terdapat infeksi, jangan tunggu lebih lama, segera pindahkan lokasi pemasangan infus.

Selengkapnya mengenai teknik pemasangan infus, bisa teman-teman baca melalui tautan dibawah ini :


Atau, teman-teman bisa melakukan teknik spooling yang akan dijawab di pertanyaan nomor 3 dibawah ini.

3. Cara melakukan spooling infus


Ada kesalahfahaman yang terjadi terkait spooling ini. Ketika masih menjadi mahasiswa keperawatan, saya suka sedikit kebingungan antara spooling dan bolus.

Bolus adalah tindakan menyuntikan atau memasukan cairan kedalam tubuh melalui pembuluh darah. Sedangkan Spooling adalah tindakan mengeluarkan cairan atau sumbatan didalam pembuluh darah.

Jadi, teknik spooling ini bisa dilakukan untuk melancarkan infusan macet karena adanya sumbatan darah yang menggumpal, selama tanda-tanda infeksi belum terjadi.

Caranya melakukan spooling adalah sebagai berikut ;
  1. Stop titrasi atau tetesan infus
  2. Lepaskan selang infus dari catheter hub
  3. Sedot atau korek blood clot dengan spuit 3 cc atau 5 cc.

Prosedur ini akan lumayan menyakitkan. Tergantung coping individu masing-masing pasien. Jadi pastikan untuk memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada pasien.

Salah satu ciri infusan macet karena blood clot adalah : darah tidak akan keluar dari catheter hub. Atau mungkin, jika tekanan darah pasien tinggi, blood clot akan keluar dengan sendirinya dari pembuluh darah melalui catheter hub.

4. Kenapa infusan bisa bengkak?


Bengkak adalah hal yang seringkali terjadi ketika dilakukan pemasangan infus. Hal ini bisa berawal dari infusan macet yang tidak ditangani atau diperbaiki dengan tepat dan cepat.

5. Selang infus berdarah


Salah satu masalah favorit dalam prosedur pemasangan infus adalah naiknya darah dan masuk kedalam selang infusan.

Kenapa hal ini bisa terjadi?

Ada beberapa kemungkinan. Namun yang paling sering adalah karena pengaruh gaya gravitasi. Semisal, karena pasien tidak bisa diam, atau pasien pergi ke WC sehingga tangan pasien bergerak-gerak dan suatu waktu posisinya tidak cukup rendah dari kantung infusan sehingga gaya gravitasi dan tekanan darah mendorong darah masuk kedalam selang infusan.

6. Terdapat gelembung udara dalam selang infus


Kasus gelembung udara dalam selang infusan juga cukup sering terjadi. Terutama dalam infusion pump. Ini biasanya ditandai dengan bunyi beep yang sering dengan menyalanya lampu "air" dalam infusion pump.

Sehingga, perawat dengan mudah dapat mendeteksi dan menetralisir gelembung udara.

Namun dalam infusan biasa, tidak terdapat warning akan adanya gelembung udara. Sebenarnya, bukan masalah besar. Mengingat menurut penelitian Infusion - Related Air Embolism, setidaknya dibutuhkan sekitar 50 ml udara untuk menyebabkan emboli dalam pembuluh darah yang dapat mengancam kelangsungan hidup seseorang.

Penelitian lain menyebutkan angka yang lebih kecil, yaitu 20 ml udara.

Jumlah ini sangat besar, mengingat jumlah gelembung udara dalam selang infus tidak akan sebanyak 20 ml. Mungkin hanya 1% - 5% nya saja.

Namun hal yang perlu diingat oleh seorang tenaga kesehatan, terutama perawat, sekecil apapun gelembung udara tersebut, itu akan masuk kedalam pembuluh darah dan berpotensi masuk kedalam jantung dan tersangkut pembuluh darah pulmonal.

Bukan masalah memang, mengingat udara tersebut akan langsung dan mudah diserap. Namun, jika jumlah udara yang tersangkut tersebut terakumulasi dengan cepat dan bertambah besar, hal tersebut akan menjadi emboli. Dan itu adalah masalah besar.

Terutama untuk pasien-pasien lansia dengan kasus komorbiditas.

Kesimpulannya, kita (baik perawat maupun pasien) sebenarnya tidak perlu terlalu khawatir dengan adanya gelembung udara dalam selang infus. Namun jangan diabaikan juga.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan seperti ;
  1. Pastikan bahwa selang infus telah terisi oleh cairan secara keseluruhan sebelum menyambungkannya dengan catheter hub
  2. Pastikan untuk selalu menutup roller clamp infusan sebelum mengganti kantung infus
  3. Pastikan tidak terdapat gelembung dalam spuit obat inject yang hendak diberikan kepada pasien
  4. Jangan pernah menaruh kantung infusan diatas tempat tidur pasien, kecuali roller clamp dalam keadaan tertutup total

Selang infus sudah terdapat gelembung udara, bagaimana cara menetralisirnya?

Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan untuk menghilangkan gelembung udara dalam selang infus, diantaranya ;

1. Flick and Float


  • Pindahkan roller clamp serendah mungkin. Pastikan berada dibawah gelembung udara.
  • Tutup roller clamp dengan sempurna
  • Pegang selang infus, dan tarik sehingga selang infus tegak lurus dan cukup tegang terhadap kantung infus
  • Sentil, atau kebas-kebas selang infus dengan jari tengah atau telunjuk. Lakukan tepat dibawah gelembung udara
  • Hal ini akan mendorong gelembung udara keatas dan masuk kedalam kantung infus

 

2. Purge Technique


  • Stop titrasi infusan
  • Clamp tangan pasien 2-4 jari dari ujung kanula keatas. Hal ini agar darah tidak mengalir keluar dari catheter hub.
  • Lepaskan selang infus dari catheter hub dan buka roller clamp sehingga cairan infus akan mengalir
  • Gunakan kantung kresek atau bengkok untuk menampung cairan yang keluar
  • Dengan begitu, gelembung udara akan terdorong keluar
  • Sesaat setelah gelembung udara keluar, tutup roller clamp, sambungkan selang infus dengan catheter hub, dan atur kembali titrasi

Sebenarnya masih ada beberapa teknik yang dapat dilakukan seperti syringe technique dan spuit push. Namun tidak akan saya bahas semuanya. 

Sebenarnya, teknik cara menghilangkan gelembung udara dalam selang infus itu tergantung kreatifitas rekan sejawat sekalian. Intinya hanya satu, bagaimana caranya supaya gelembung udara bisa keluar dari selang infus. Namun jangan lupa, selalu lakukan inform consent terhadap pasien.

Nah itulah kiranya beberapa tanya jawab mengenai masalah infusan yang sering terjadi.

Lho katanya 101+, tapi kok hanya 6?

Daftar pertanyaan ini akan terus bertambah jika dan hanya jika teman-teman atau rekan sejawat menambahkan pertanyaannya melalui kolom komentar dibawah.

Saya yakin masih banyak pertanyaan lainnya, seperti ;
  • Kenapa cairan infus harus isotonis?
  • Kenapa infus harus bebas pirogen?
  • Kenapa infus dipasang di pembuluh darah vena?
  • Bisakah infus dipasang di pembuluh darah arteri?

Dan yang lain-lainnya. Intinya saya ingin teman-teman dan rekan sejawat sekalian berperan aktif. Tidak hanya menjadi pasive reader. So, saya tunggu partisipasinya.

Okay, thats all for now. Thanks for reading. Saya Nugraha Fauzi, stay aweseome dude!



References:

  1. Infusion-related air embolism. – PubMed – NCBI [Internet]. [cited 2015 Apr 12]. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23271149
  2. Air Embolism. Risk Prevention in Infusion Therapy. [cited 2015 Apr 12]. Available from: http://www.safeinfusiontherapy.com/documents/french/air_embolism%281%29.pdf
  3. 50 Tips Pemasangan Infus dalam 1 Kali Tusukan. [Nugraha Fauzi and Friends]. Available from : http://www.nerslicious.com/2017/08/pemasangan-infus.html

1 komentar

Asik, belajar lagi nih. Ini yang dibahas masih asing banget, jadi tehu deh.
Nice share, Kang. Kedepan banyakin tulisan tentang kesehatan bagus juga lho, Kang.

Jadi itu ya penyebab infusan macet, sering lihat sih kalau lagi ada yang dirawat tapi suka macet. Aku sendiri belum pernah dan jangan sampe lah.

Lebih baik menjaga dari pada mengobati :)