Cara Menurunkan Bounce Rate dengan Teknik Momentum

- Maret 12, 2018
Teknik Momentum Nerslicious

Hanya dalam 1 bulan, saya berhasil menurunkan bounce rate sampai 10% lebih dengan menggunakan satu teknik ini. Dan bahkan, mungkin bisa sampai 20% lebih jika teman-teman mempunyai artikel yang lebih banyak dari saya. Bagaimana saya melakukannya? Yuk lanjutkan membaca karena rahasianya akan saya beberkan disini!

Terkadang kita, termasuk saya sendiri, sebagai seorang blogger 'terlalu' fokus untuk menulis artikel saja. Riset ini itu, mencari sumber disana sini, mengedit, mengecek tulisan, mencari gambar, dan membuat tulisan tersebut menarik serta enak dibaca ...

Lalu kita klik Publish ...

Setelahnya, apa yang terjadi? Selesaikah pekerjaan kita? Ataukah kembali berfikir untuk menulis artikel selanjutnya, mengulangi tahap yang tadi disebutkan diatas dan lalu klik publish kembali?

Jangan dulu dijawab, lanjutkan membaca.

Akhir-akhir ini, terus terang, saya lebih banyak membaca artikel-artikel dari luar. Hal yang selama ini jarang saya lakukan. Bukan karena sok, bukan karena sombong juga, melainkan karena artikel mereka berkelanjutan.

Sehingga, saya yang tadinya hendak membaca satu artikel, jadi kebablasan sampai 5 artikel bahkan lebih.

Efeknya, beberapa rutinitas yang biasanya saya lakukan, seperti membalas komentar, blogwalking, dan membuat draft post, jadi terbengkalai. Dan saya mohon maaf atas hal tersebut.

Yang jadi pertanyaan saya, lho kok bisa jadi kebablasan? Apakah artikel mereka sempurna? No. Apakah artikel mereka panjang dan berbobot? No. Lalu apa?

Mereka menggunakan momentum rasa penasaran manusia dengan sangat baik. Dan hal itulah yang akan saya bahas dan sharing dengan teman-teman saat ini :

Bagaimana Cara Menurunkan Bounce Rate dengan Teknik Momentum


Saya menyebutnya Teknik Momentum. Dan ini hanya bahasa saya saja. Karena saya tidak mengetahui istilah aslinya dan belum menemukan ada blogger lain yang membahas teknik seperti ini.

Kebanyakan hanya berkisar pada Teknik Internal Link Building.

Agar tidak bingung, untuk teman - teman yang belum mengetahui tentang Bounce Rate dan apa efeknya terhadap blog, maka saya sarankan untuk membaca artikel ini terlebih dahulu :


Teknik momentum ini sebenarnya tidak jauh beda dengan teknik link building, yaitu mengaitkan satu artikel ke artikel lainnya dengan tujuan optimasi internal link.

Namun, dengan cara yang lebih elegan dan membutuhkan usaha yang lumayan sulit.

Kenapa?

Pertama : Karena kebanyakan blogger - termasuk saya - membangun internal link dengan cara mengaitkan artikel yang mempunyai topik yang sama, menggunakan anchor text secara natural dalam postingan, dan semuanya berupa artikel dengan topik yang luas, tanpa adanya keterkaitan yang signifikan diantara artikel-artikel tersebut.

Poin pentingnya ada 3 :

  1. Topik yang sama
  2. Menggunakan anchor text natural dalam postingan
  3. Topik yang dibahas luas

Dan berikut contoh dari hal tersebut :
internal link
Contoh internal link dengan anchor text natual

Penting : Algoritma Google yang di update Desember 2017 menyatakan bahwa internal link building berupa anchor text dalam artikel menyalahi pedoman kualitas Google. Untuk beritanya, bisa teman-teman baca disini :

Algoritma Google 2018 : Panduan Link Scheme Google

Kedua : Karena kebanyakan blogger - termasuk saya - malas untuk sedikit memodifikasi internal link. Maunya yang simpel-simpel. Akhirnya, hanya mengikuti trend yang sudah turun temurun dan menggunakan teknik internal link building hanya dengan menambahkan kata : Baca ini.

Dan berikut contoh dari hal tersebut :
Bounce rate
Contoh internal link dengan penggunaan kata "baca"

Kedua hal tersebut terjadi karena kita selalu terpaku kepada membuat artikelnya saja, tanpa memikirkan pengalaman yang akan pengunjung dapatkan ketika membaca artikel tersebut.

Padahal, jika saja jeli sedikit, kita bisa memodifikasi teknik internal link building menjadi teknik momentum yang akan meningkatkan page view dan menurunkan bounce rate secara signifikan!

Bagaimana caranya?

Perlakukan setiap artikel yang kita tulis sebagai pendahuluan untuk artikel selanjutnya

Jadi, Teknik Momentum adalah salah satu teknik internal link building dengan menstimulasi rasa penasaran manusia lebih dalam dengan memperlakukan setiap artikel yang ditulis sebagai pendahuluan untuk artikel yang akan ditulis selanjutnya.

Mari balik lagi ke pertanyaan diawal artikel yang belum dijawab, saran saya :

Bagaimana jika, sebelum kita langsung klik publish - kemudian berfikir kembali untuk menulis artikel selanjutnya lalu klik publish lagi, sebaiknya kita berhenti sejenak dan tanyakan pada diri sendiri bagaimana caranya agar artikel yang terakhir saya tulis bisa berhubungan dengan artikel ini?

Contohnya artikel ini.

Artikel yang terakhir saya tulis berjudul Apa Itu Bounce Rate? Dan artikel yang sedang teman-teman baca saat ini berjudul Cara Menurunkan Bounce Rate dengan Teknik Momentum.

Sehingga, diawal artikel saya menganjurkan :
Agar tidak bingung, untuk teman - teman yang belum mengetahui tentang Bounce Rate dan apa efeknya terhadap blog, maka saya sarankan untuk membaca artikel ini terlebih dahulu : Apa Itu Bounce Rate?
Teknik ini terbilang sangat efektif. Karena dengan kalimat tersebut, rasa penasaran pembaca lebih terpancing lebih dalam. Sehingga akhirnya mau tidak mau, mereka meng-klik sugesti tersebut dan membaca artikelnya.

Beberapa blogger papan atas yang menggunakan teknik ini diantaranya Pro Blogger dan Neil Patel. Adapun untuk dalam negeri bisa kita sebut Blogodolar, Panduan IM, dan Mas Sugeng.

Sehingga tidak heran jika ketika membaca artikel mereka, kita seakan diajak berpetualang menelusuri setiap inchi dari lautan ilmu yang mereka tulis.

Bandingkan dengan teknik yang hanya menggunakan kata : Baca, Baca ini atau Baca juga.

Teknik tersebut terkesan seperti suruhan. Dan mau tidak mau, sifat ego manusia yang tidak mau disuruh-suruh mempengaruhi keputusan pengunjung dalam meng-klik tautan tersebut.

Akibatnya, banyak blogger yang katanya sudah mempraktikan seluruh teknik untuk menurunkan bounce rate, tapi tetap saja bounce rate mereka tinggi.

Mungkin inilah sebabnya.

Tapi masih mending yang menggunakan teknik : Baca ini. Ketimbang mereka yang menggunakan anchor text natural dalam postingan.

Kenapa?

Logikanya seperti ini : Fungsi lain dari internal link adalah untuk memudahkan Googlebot dalam melakukan crawling (perayapan) keberadaan artikel.

Crawling ini dilakukan secara up to down, menyeluruh, dari mulai judul, awal artikel sampai akhir artikel.

Jika artikel yang kita buat mempunyai struktur acak-acakan, tidak terdapat perbedaan yang jelas antara mana artikel dan mana link, hal tersebut justru akan memperlambat proses crawling googlebot. Karena terdapat link yang menyatu dalam artikel.

Untungnya, untuk mengatasi tersebut - agar artikel cepat terindex google - saya telah menulis panduan lengkap mengenai hal tersebut. Teman-teman bisa membacanya disini :


Bagaimana? Masuk akal kan?

Selesai!

Mudah bukan? Hanya tinggal memodifikasi internal link building dengan teknik psikologi manusia. Sehingga, teknik ini selain bisa memperjelas struktur sebuah situs, juga dapat menghadirkan pengalaman yang menyenangkan bagi pengunjung karena konten situs terlihat lebih kaya akan konten yang mendalam.

Berikut hasil yang saya dapatkan ketika melakukan internal link building dengan cara teknik momentum.

Ini adalah sebelum saya menerapkan teknik momentum, sekitar akhir bulan januari 2018 dengan artikel baru mencapai 17 artikel :
Teknik momentum internal link building
Sebelum memakai teknik momentum

Dan ini adalah screenshot terbaru dari Alexa Site Info yang saya ambil tanggal 12 Maret 2018 dengan artikel mencapai 27 :
Teknik momentum internal link building
Setelah memakai teknik momentum

Memang tidak terlalu signifikan. Ya alasannya banyak, pertama jumlah artikel yang masih sedikit. Kedua, teknikini juga baru sebulan lebih penerapannya.

Mungkin jika teman-teman mempunyai artikel yang lebih banyak, hasilnya akan cukup terlihat signifikan.

Cukup mudah dimengerti kan ya? Dan ingat, ini hanya salah satu cara dari sekian banyak cara untuk menurunkan bounce rate. Jika ada yang perlu didiskusikan, mari gunakan kolom komentar dibawah ya!

Oh ya, ini juga adalah jawaban dari pertanyaan salah satu sahabat blogger saya : Monica Rampo yang beberapa waktu kebelakang menanyakan perihal cara menurunkan bounce rate. So, terima kasih atas pertanyaannya mbak, karena hal tersebut menjadi motivasi untuk saya untuk menulis mengenai bounce rate ini.

So thanks for reading. Keep Writing and Stay Awesome!
Advertisement
 

Start typing and press Enter to search