Tentang Kopi Kapal Api, Rinjani dan Resolusi 2018

Tentang Kopi Kapal Api, Rinjani dan Resolusi 2018

Tentang Kopi Kapal Api, Rinjani dan Resolusi 2018

Nerslicious

"Rinjani yuk?" Subuh itu dihiasi dengan ajakan sahabat saya - yang entah sudah makan obat apa - tiba-tiba ngajakin naik gunung. Rinjani pula! Saya lihat jam di handphone, 03:15.

Wait, what???? Jam segini telepon Whatsapp cuman mau bilang gitu doang?

Terus terang, karena subuh itu mata dan telinga saya belum kompak akibat terlalu lelah mimpi debat sama Abu Janda, jawaban saya untuk ajakan tersebut hanya ;

"Hmmmmm". Lantas kembali dibuai mimpi.

Hari itu, Minggu 24 Desember 2017, saya bangun setengah enam pagi.

Seperti yang dilakukan generasi milenial lainnya, hal pertama yang dilakukan ketika bangun tidur itu adalah : nyari handphone! Secara karena subuh tadi digangguin makhluk salah minum obat, handphone saya ternyata ada di bawah bantal.

Mungkin karena terus berdering, jadinya saya simpan deh tuh handphone dibawah bantal. Tapi entahlah, saya nggak begitu ingat.

Biasanya, pagi-pagi begini, si Beb bakalan ngirim good morning message via Whatsapp. Biasanya. Tapi, ya kan tahu sendiri, per tanggal 1 April 2017, beliau telah resign.

Tapi seperti kata mbak Ella Fitria ; "Udah dong, jangan bahas mantan muluk!", jadi ya yo wis kita skip prahara tersebut. Move on move on!

Seperti biasa, setelah menghadap ke Yang Maha Kuasa, di hari Minggu pagi saya biasanya pergi jogging. Namun entah kenapa, kok pagi ini rasanya saya males sekali untuk jogging.

Jadinya, ya as always, ngopi! Si hitam yang mengajarkan bahwa yang pahit-pun tetap bisa dinikmati : Kopi Kapal Api.
Nerslicious
Si hitam yang mengajarkan bahwa yang pahit-pun tetap bisa dinikmati. - Unsplash

Atau jika kata mbak Gita Siwi ; "Percaya atau tidak itu terserah anda!! Bagi kami secangkir kopi dapat membuat hidup lebih menyenangkan."

Ah, kopi ya?

Bicara mengenai kopi, saya bisa dibilang salah satu penikmat kopi aliran Peneguk Kopi Instan versi Majalah Otten Coffee. Entah kenapa, mungkin karena sifatnya yang cepat, enak, murah dan praktis. Tinggal seduh, segelas kopi panas nan harum siap diseruput untuk mengawali segudang aktivitas.

Rasanya ada yang kurang jika bekerja sebelum meneguk segelas kopi. Seperti kata Bob Dylan dalam lagunya yang berjudul One More Cup of Coffee ;

One more cup of coffee for the road
One more cup of coffee 'fore I go
To the valley below

Pernah  suatu waktu ketika saya masih berada di bangku kuliah, ada seorang dosen yang jika belum ngopi, beliau tidak bisa masuk kelas. Alasannya sederhana : Kurang semangat jika belum ngopi!

Atau jika kurang familiar dengan Bob Dylan, Warkop DKI juga pernah membuat lagu mengenai kopi yang begitu akrab dengan kebiasaan orang Indonesia ;

Ngobrol di Warung Kopi
Nyentil sana dan sini
Sekedar suara rakyat kecil
Bukannya mau usil

Seperti pagi itu, ketika orang-orang memulai segala aktivitasnya, para petani yang mulai keluar rumah dan menuju sawahnya, pun dengan Bapak saya yang seorang guru SD ikut-ikutan keluar rumah.

Dengan segelas kopi ditangan kiri buatan ibunda dan smartphone ditangan kanan serta ibu jari yang tiada henti menyentuh layar, ia duduk di balkon rumah sambil sesekali menyapa mereka yang lewat depan rumah kami, ada yang hendak pergi ke sawah, ke kolam ikan, warung, atau sekedar menghirup segarnya udara di pagi hari dengan jalan-jalan di jalan gang depan rumah kami.

Sebuah pemandangan yang tidak akan didapatkan di perkotaan. Begitu natural, jauh dari hiruk pikuk dan bising kendaraan. Hanya kokok ayam dan suara sapu lidi yang digunakan untuk menyapu halaman rumah yang memonopoli suara di pagi yang cerah itu.

"Ru, batur mah geus meuli mobil deui duh." (Ru, orang lain mah sudah beli mobil lagi). Sebuah suara yang sudah akrab ditelinga saya menjadi selingan obrolan alam pagi itu.

"Heueuh duh, loba duitna nya batur." (Iya ya, banyak uangnya orang lain mah). Jawab Bapak saya yang dipanggil "Ru (Guru)", sambil menyeruput kopi hitam panasnya.

Itu jika ada tetangga yang beli mobil. Biasanya diucapkan dengan keras sambil tertawa dan ngeloyor. Hanya sentilan tanpa gosip berkepanjangan.

Beda lagi jika ada tetangga yang berantem. Biasanya diucapkan dengan pelan, serius, dan berakhir dengan gosip yang tak berkesudahan. Ya namanya juga manusia, kalau kata orang sunda : lamun teu ngomongkeun batur sapoe teh ngadadak jeding biwir.

Kaum ibu biasanya.

Saya, yang masih belum mandi, hanya tersenyum mendengar hal tersebut dan memilih untuk diam di dalam rumah, ditemani laptop dan segelas kopi kapal api yang juga buatan ibunda tercinta.

Memang, entah dari sejak kapan Ibu saya selalu otomatis membuatkan segelas kopi untuk saya jika dan hanya jika saya tidak pergi jogging di pagi hari. Seoalah itu sudah menjadi sebuah kebiasaan Beliau : membuatkan kopi untuk saya dan juga Bapak.

Padahal, dari sejak pukul 4 pagi, Ibu telah bangun untuk membereskan seisi rumah, mencuci, dan memasak untuk sarapan keluarga. Tapi masih saja menyempatkan diri untuk menambah rutinitas pagi dengan membuatkan 2 gelas kopi.

Berkali-kali saya sudah meminta Ibu untuk tidak melakukan hal tersebut, namun jawabannya sangat simpel ; "biar sekalian sama Bapak." ujarnya.

Yo wis lah, ditemani dengan segelas kopi, jadilah pagi itu saya menulis beberapa resolusi untuk tahun 2018.

Kepulan uap tipis masih saja keluar dari mulut gelas kopi yang belum saya cicipi barang satu seruputpun. Padahal, untaian kata di Microsoft Word sudah menunjukan angka 300. Stuck. Entah apalagi yang harus saya tuangkan dalam resolusi tahun depan.

Begini nih jadinya kalau planning satu tahun dirusak. Semuanya jadi berantakan. Harusnya, 2017 sudah banyak ceklis yang saya tunaikan. Namun apa daya, gagal move on! Akhirnya, untuk tahun 2018 saya stuck. Entah harus me-reset planning tahun 2017 atau mencari perubahan suasana.

Saya jadi teringat kejadian beberapa tahun kebelakang sewaktu masih menjadi mahasiswa. Jika teringat kejadian tersebut, rasanya kok saya kuliah "suka-suka gue" ya? Hehe

Waktu itu, saya sedang praktik di Rumah Sakit Jiwa Cisarua Cimahi. Saya masih ingat, tugas akhir praktik disana, kelompok saya kebagian untuk mempresentasikan sebuah makalah tentang Keperawatan Jiwa dalam sebuah seminar.

Pesertanya tentu saja, kami - dari Akper Pemkab Sumedang -, teman-teman kami yang kebetulan satu praktikan dari Akper Faletehan, dan juga para dosen serta perawat jiwa Rumah Sakit tersebut.

Sebenarnya, H-3 makalah kami sudah jadi. Tanpa sepengetahuan saya tentunya.

Maklum, saya orangnya slengean ( sifat atau karakter seseorang yang antara cuek, easy going, happy happy, gokil, kayak gak ngerasa susah hidupnya, supel cenderung gampang berbaur, termasuk ngasal, urakan, suka sembarangan, relatif kalau mikir tuh belakangan aja.)

"Kuk, makalah udah jadi?" Tanya saya pada salah seorang teman satu kelompok waktu itu. Namanya sih Siska. Tapi saya manggilnya Kuk. Entahlah, jangan tanya kenapa.

"Udah dong Upik, kemana aja sih!" Jawabnya ketus.

Hmmmm, yo wis deh. Orang slengean mah bebas. Benerkan?

Boro udah santai, eh petaka datang di H-1 seminar. Kalau nggak salah sekitar pukul 8 malam, dosen pembimbing kami, Ibu Reny Nuryanti, meminta kami untuk mengganti kasus. Saya nggak tahu persis kenapa diganti. Tapi yang jelas, dari obrolan teman-teman saya dapat menyimpulkan dua hal :

  1. Kasus yang sudah ada, terlalu biasa. Nggak menantang dan bakalan monoton.
  2. Kasus yang baru yang ditawarkan beliau kalau bisa diolah, bisa jadi masterpiece buat kelompok kami. Materinya ada dari bu Reny. Tinggal mengolah saja.

Hmmmm, yo wis deh. Malam itu diputuskan, ganti kasus. Sibuk deh tuh semua orang buat bikin kasus baru. 

Yang lagi kangen-kangenan sama pacar di panggil buat bantuin, yang lagi PDKT lagi sama mantan juga sama. Apalagi yang hanya guling-guling di kasur. Pokoknya malam itu kontrakan kami siaga 3 bencana.

Lah saya ngapain? Ngopi di balkon rumah sambil chattingan sama si "kamu". Iya si "kamu" yang resign bulan April lalu.

Kalau di fikir-fikir, kelakuan saya waktu itu bikin jijik orang. Orang lain pada sibuk, eh ini malah santai kek dipantai tanpa beban. Orang slengean mah bebas, ya kan? 

Saya tipe orang yang cuek bebek, selagi nggak ada yang minta bantuan, berarti mereka memang nggak perlu bantuan. Toh peringkat 3 besar di kelas, ada di kelompok saya. Lah saya yang kuliah slengean, mau bantuin apa coba?

Eh tapi tenang, gini-gini juga saya seorang Supersub.  Jam 9 malam sih masih pada kuat ya. Perawat kan kerjaannya bergadang. 

Yang gawat tuh dari jam 11 malam kesana. Mata udah pada 5 watt, otak udah stuck, nguap lagi nguap lagi. Satu persatu udah mulai tumbang. Saya, yang masih di balkon, akhirnya dipanggil juga. Sebut saja Meli. Dia orang yang paling sering berantem dengan saya. Secara dia penguasa peringkat kelas!

"A, bantuin ih. Mel pusing." Singkat pada dan jelas. Dia minta bantuan.

"Yuk." Jawab saya singkat. Jam dinding malam itu menunjukan pukul 00.02. 

Disnilah petaka dimulai. Materi sih oke, secara copas doang dari dosen pembimbing. Yang jadi masalah :

  1. Design presentasi. Saya termasuk orang yang perfeksionis. Saya nggak bisa kerja setengah-setengah. Apalagi mengerjakan "sisa" pekerjaan orang lain. Ini saya rombak. 
  2. Contoh kasus yang tidak relevan dengan kenyataan di lapangan. Akhirnya saya rombak.
  3. Penyampaian materi presentasi yang copas. Terus terang, saya tidak suka dengan slide presentasi yang banyak kalimatnya. Saya rombak juga.

Malam itu, terjadi perdebatan yang jika saya tidak tegas, bakalan ancur. Meli, tetap mau seperti kerangka yang sudah dia buat. Saya, nggak mau diatur-atur. Akhirnya dia nyerah. Sekarang, semuanya tergantung saya.

"Bakalan semaleman nih..." Fikir saya. 

Yo wis, tanpa banyak ba-bi-bu, saya minta dibelikan kopi kapal api satu sachet, camilan, dan juga rokok. 3 hal yang tidak bisa saya lepaskan ketika mengerjakan sesuatu. Apapun itu.

Kenapa harus kopi, camilan dan rokok? Karena;
  1. Kopi, menurut penelitian A Smith, Whitney H, Thomas M dan Brockman pada tahun 1999 yang berjudul : Effects of cafeine and noise on mood, performance and cardiovascular functioning, menunjukan bahwa kopi - pada beberapa kasus - dapat membuat tubuh tetap terjaga dan meningkatkan konsentrasi walaupun tidak signifikan.
  2. Camilan, dikutip dari Live Strong, mengkonsumsi makanan mengandung protein sehat di malam hari bisa membantu tubuh membantuk otot saat tidur. Sementara camilan berkarbohidrat kompleks, akan membantu tubuh mengontrol gula darah di keeseokan harinya bahkan nafsu makan jadi lebih terkontrol. Apalagi, ditambah kopi, yang menurut penelitian Wildman pada tahun 2007 yang berjudul ; Handbook of Nutraceuticals and functional foods menunjukan bahwa kafein mampu menurunkan resiko terkena diabetes melitus tipe 2 dengan cara menjada sensitivitas tubuh terhadap insulin.
  3. Rokok, sebenarnya tidak ada alasan ilmiah yang dapat menjadi dasar kenapa saya merokok. Ya walaupun dalam kopi terdapat kafein yang dapat mencegah penyakit serangan jantung, namun rokok tetaplah rokok dengan sejuta bahaya yang berada dalam kandungannya. Saya sih, ya nikmat saja. Kopi tanpa rokok itu ibarat sayur tanpa garam, atau yang lebih ekstrem : ibarat saya tanpa si "kamu".

Jadilah malam tersebut, saya bergadang semaleman nggak tidur sama sekali. Pas beres, jam dinding menunjukan pukul 05.30. Camilan habis, kopi 3 gelas pun habis, rokok sisa 4 batang. Ah, gaya hidup ala-ala hacker di televisi.

Beres juga. Pagi itu, saya nggak tahu apa-apa lagi, karena begitu beres, saya langsung menuju kamar dan tidur.

Saya terbangun ketika teman-teman pada berisik diruang tamu. Setengah sadar, saya menuju ke ruang tamu.

"Ai akang kamana, orang lain seminar lah ini malah tidur, ampun." Sebuah suara datang dari belakang saya. Pas saya tengok, ternyata dosen pembimbing. Damn!

"Eh, ibu ...anu bu ..." Belum sempat nyari alasan, Bu Reny malah nepuk pundak saya sambil bilang;

"Keren kang." Katanya. Singkat padat dan jelas. 

Saya yang masih setengah sadar hanya bisa mengangguk-anggukan kepala. Dalam hati saya berkata, "Ah, berarti aman nih. Bisa tidur lagi." Yo wis, nggak perlu balik badan lagi, langsung aja ngeloyor ke kamar dan tidur lagi.

Ah andai saja waktu bisa diputar ulang.

"Cie yang lagi kasmaran ..." Sebuah suara mengagetkan saya yang lagi senyam-senyum sendiri mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu tersebut.

"Hush, anak kecil mbok kok udah tahu kasmaran, sana sana sana!" Jawab saya ketus pada keponakan saya yang baru menginjak kelas 3 SD. Bete kan kalau lagi seneng-senang ngelamun terus ada yang ganggu. 

Kopi buatan ibunda masih ada setengah gelas, ah kurang camilan ternyata. Yo wis, caw beli!
Nerslicious
Kopi dan camilan memang satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan - Arenga Indonesia

Itulah kopi, dan bagaimana kopi menemani disetiap lembaran-lembaran kehidupan diberbagai lapisan masyarakat. Khususnya Kopi Kapal Api yang selalu mempunyai cerita-cerita tersendiri di berbagai kalangan.

Bagi saya, #KapalApiPunyaCerita karena ia selalu menemani saya dalam suka dan duka.

Bagi Bapak saya, #KapalApiPunyaCerita karena ia selalu menemani dikala libur tiba sambil membaca koran dan menikmati pisang goreng buatan Ibu.

Bagi Ibu saya, #KapalApiPunyaCerita karena ia adalah media untuk menyalurkan kasih sayang kepada keluarganya, tanda cinta dan perhatian disela-sela kesibukannya mengurus bahtera rumah tangga.

Seperti yang sudah saya katakan, kopi adalah si hitam yang mengajarkan bahwa sepahit apapun rasanya, tetap bisa dinikmati.

Pun dengan kehidupan.

Bagaimana saya jatuh di bulan April, rencana yang berantakan, termasuk rencana khitbah si "kamu" pas wisuda dan sederet rencana-rencana indah lainnya yang telah saya tulis dalam rencana kehidupan saya. 
Nerslicious
Broken plan - broken heart - broken rings. Unsplash

Seperti kata Freedy Johnston dalam lagunya yang berjudul Coffee, Coffee, Coffee ;

Some men drink alcohol 
Some men drink juices from the vine 
But as for me I'm very simple 
Give me coffee every time 
Make it warm and make it sweet 
Just the way my life has been 
Give me coffee, coffee, coffee…
And let me tell you, you have found yourself a friend

Ya beberapa orang mungkin akan mabuk-mabukan dikala galau, atau kalau kebetulan yang galau penganut healthy-lifestyle mungkin akan menggantinya dengan jus. Tapi bagi saya, cukuplah kopi yang menemani.

Itulah kenapa saya suka kopi. Selain karena manfaatnya, juga karena begitu banyak filosofi yang menyertai kehadirannya.

Lah kenapa juga harus Kopi Kapal Api?

Karena selain Kopi Kapal Api Jelas Lebih Enak, Kopi Kapal Api juga telah teruji selama puluhan tahun sebagai merk kopi yang tidak lekang oleh waktu. Berikut beberapa alasan kenapa saya memilih Kopi Kapal Api sebagai teman aktivitas sehari-hari saya ;

Nerslicious
Kopi kapal api, jelas lebih enak. Seroyamart


  1. Kopi Kapal Api menggunakan biji kopi pilihan yang telah melalui serangkaian proses seleksi yang ketat oleh para peracik kopi dengan pengalaman puluhan tahun. 
  2. Kopi Kapal Api diolah melalui proses Mix and Roasting yang pas, menggunakan mesin khsusus roasting, lalu disangrai pada suhu sekitar 200 derajat Celcius selama kurang lebih 15 menit sebelum melalui proses mix yang akhirnya menghasilkan biji kopi rendah kadar air dengan aroma dan cita rasa yang kuat.
  3. Setelah melalui tahap Mix and Roasting, Kopi Kapal Api juga melalui proses yang bernama Grinding and Quality Control. Disinilah biji kopi pilihan didinginkan dalam mesin khusus bersuhu sekitar 50 derajat Celcius sebelum akhirnya dimasukan ke mesin penggiling dan diproses hingga halus. 
  4. Selain ke 3 proses diatas, hal yang selalu dilakukan oleh Kopi Kapal Api adalah selalu berinovasi tiada henti. Dimulai dari versi pertama yaitu Kopi Kapal Api Special, lalu Kopi Kapal Api Special Mix, Kapal Api Mocha, Kopi Susu, Kapal Api Mantab, dan Kapal Api White Grande. Nah terakhir, ada lagi satu lagi yaitu Kapal Api Easy Drip. Berbeda dengan kemasan-kemasan sebelumnya, varian ini dikemas langsung dalam wadah drip bag. Kopi yang satu ini cocok bagi kalian yang menginginkan sensasi kopi nikmat layaknya seduhan pour over di kafe favorit. Oh iya satu lagi, Kopi Kapal Api Easy Drip ini adalah kopi instan tanpa ampas lho!
Nerslicious
Kapal Api Easy Drip. Waktunya Kapal Api

Itulah ke-4 alasan kenapa saya memilih Kopi Kapal Api daripada kopi-kopi lainnya. Sekali kapal api, tetap kapal api.

Kopi buatan Ibu masih sisa seperempat gelas, resolusi pun sudah hampir beres. Tinggal menyusun step-by-step cara mencapai resolusi tersebut. Dan inilah resolusi saya di tahun 2018 :

  1. Pastinya harus bisa move on. Dalam artian, move dari segala keburukan yang terjadi di tahun 2017. Lupakan mantan, dan cari pengganti yang bisa langsung di khitbah. Mudah-mudahan stock-nya masih ada. Itu yang pertama harus saya lakukan.
  2. Fokus di dunia literasi. Dalam artian pertama saya mempunyai buku yang harus segera di legalkan (ISBN). Kedua juga untuk literasi dalam blog, saya ada beberapa target tersendiri untuk blog ini di tahun 2018. Mungkin nanti akan saya tulis secara terpisah. Namun yang jelas, blog ini akan dan harus berkembang.
  3. Kuliah. Saya rencana kembali ke bangku kuliah di musim PMB 2018. Untuk itu, karena kuliah butuh modal yang nggak sedikit, saya juga harus bekerja extra mulai sekarang. Tepatnya mulai Januari 2018. Jadi kalau ada yang mau ngajak trip atau ada proyek apa gitu, yuk dari sekarang mumpung masih ada waktu senggang di akhir Desember. #Ngarep
  4. Memperbaiki diri. Ini yang jadi masalah saya selama 2017 kemarin. Termasuk didalamnya urusan kesehatan, spiritualitas dan juga sosialisasi.
  5. Behenti merokok. Ini yang selalu susah saya lakukan. Akibatnya, jatah nabung traveling kebabat habis akibat rokok ini. Harus bisa dan pasti bisa berhenti. Amiinn. Biar whislist traveling bisa tercicil sedikit-sedikit di tahun 2018. 
  6. Ini sih plan B jika kuliah nggak terlaksana, saya bakalan balik ke rumah sakit. Menjadi perawat yang seutuhnya. Kangen sih iya sama suasana rumah sakit, namun jika ada rezekinya, pending dulu deh ya kangennya, saya mau kuliah dulu. 

Itulah kiranya ringkasan Resolusi 2018 saya. Semoga bisa terwujud. Amiin

Kopi buatan Ibunda masih sisa seperempat gelas lagi. Biasanya inilah saat-saat dimana saya enggan cepat-cepat menghabiskannya. Kalau kata iklan susu, hingga tetes terakhir. 

"Asa ngopi wae, mandi atuh duh!" (Perasaan kok ngopi mulu ya). Sebuah suara mengagetkan saya yang sedang menikmati tetes-tetes terakhir kopi kapal api buatan Ibunda tercinta. Sebuah suara yang membuat saya menarik nafas panjang nan berat. 

Belum sempat saya menaruh gelas ke meja, makhluk yang subuh tadi salah minum obat sudah berkata lagi;

"Hayuk ka rinjani!" (Ayok, kita ke rinjani). Serunya dengan penuh semangat.

"Seriusan?" tanya saya sambil menaruh gelas ke meja dan menyalakan sebatang rokok.

Panjang lebar dia menjawab, intinya, dia ada rencana pergi ke Rinjani pertengahan tahun. Entah bulan apa, yang jelas prepare nya dari sekarang. Maklum, kendala budget dan fisik yang kurang memadai.

Akhirnya, " Yo wis, yuk!" Jawab saya singkat. Jemari tangan kembali menyentuh papan keyboard laptop Asus jadul yang berada tepat di depan saya;

7. Rinjani di pertengahan tahun 2018.
Nerslicious
Segara Anak Rinjani - Shutterstock

Ah, Rinjani. Padang savana yang memanjakan mata, Pelawangan sembalun dan danau segara anak, membuai lamunan saya di pagi nan cerah hari itu.

Ah, Rinjani. Sambil ngopi kapal api, nongkrong di segara anak, ambil selfie di padang edelweis, dan sujud syukur di puncak dengan ketinggian 3726 mdpl, kayaknya seru tuh! Caw ah!
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

30 komentar

Si anu yg resign bulan april spertinya masih selalu nyangkut d setiap artikelnya kang fauzi..
Semoga ce0et dpt penggantinya

Saya jg hanya kopi yg menemani di kala deadline tiba

Balas

Smg terwujud resolusinya, akad dengan rinjani. Btw kamus seperti kata-nya boleh juga.... :)

Balas

Nikmatnya secangkir kopi menemani sore hari dengan gorengan/cemilan di sisi
Eh..tapi baru mudeng juga, kalau naik gunung kopi pasti selalu ada dlm persediaan

Balas

Semoga yang resign bulan April lalu segera tergantikan dengan yang lebih baik ya. Dan resolusi 2018 nya tercapai.

Aku kebetulan sudah lama nggak minum kopi, terutama kopi hitam. Baca soal kopi kapal api di sini jadi kangen juga rasanya sama kopi kapal api.

Balas

semoga resolusinya tercapai. semangaat!

Balas

Kalau kopi kapal api biasanya aku beli yang spesial mix atau yang lampung, itu jika nggak ada stok kiriman dari teman hahahaah

Balas

kapan kita ngopi bareng.

Balas

Menikmati kopi itu tidak langsung meneguk habis tapi sruput demi sruput menemani pas lagi bertugas, ngobrol, atau ngeteh pagi bareng keluarga


Wah resolusinya sama Rinjani tp ga ditarget taun 2018, ditarget tiap tahun sampe tercapai 😂

Balas

Kopi kapal api emang paling endeus sama camilan. Teman begadang kalo digeber deadline nih ;D

Balas

pecinta kopi hitam ya? belum pernh nyobain kapal api, lebih suka nescafe, liat postingan ini jd penasaran minum kpl api + gorengan, hihi

Balas

Memang klo naik gunung kopi harus ada itu mah, sama coklat juga sech klo lapar melanda bnagt dan makanan belum tersedia.
Semoga resolusinya tercapai yaa

Balas

Kala otak mumet,si kopi jadi penyelamat hehe
Harus cepet-cepet nyari pengganti ini mah, bahaya wkwkwkwk
ada saran? Hahaha

Balas

USA ( Urang Sunda Asli ) - Orang Sunda Asli wkwkwk

Balas

Si setia penghangat badan ditengah dinginnya alam pegunungan, canda tawa ditengah malam rasanya kurang nikmat jika tidak sambil ngopi hehe

Balas

Ammiinnn allahumma amiinn kak gege, anw manggilnya gege aja ya? ^-^

Mending kangen kopi daripada kangen mantan kak ^-^

Balas

Satu selera,kapan ngopi bareng bang?

Balas

kapan ya? Yuk ah ...sekalian sharing hehe

Balas

Temen saya ada yang kalau ngopi, 5 menit langsung habis. Alasannya : Kalau dingin nggak enak. Wkwkwk

Ah semoga tahun 2018 tercapai, semangat!

Balas

Camilannya singkong goreng panas atau pisang goreng, joss!

Balas

Wah kak nia harus coba nih, dijamin nagih kak! ^-^

Balas

Coklat : kalau lapar dan inget mantan wkwkwkwk

Amiinnn, makasih bang! Semangat! ^-^

Balas

Resolusi,,, hmmm bahkan aku belum sempat kepikiran.. haha

Balas

hidup memang kudu ber-resolusi agar semangat tidak pernah kendur, kalau udah kendur nggak cukup minum kopi dan ke Rinjani doang sih soalnya mah

Balas

Aduh mas, sayang sekali, saya ngefans dengan tulisan kesehatannya, tapi koq kali ini ada cerita tentang merokok ...? gapapa ya, saya kasih inputan dikit.

Balas

Wah, di setiap aktivitas selalu ditemani kopi ya hihi.. Saya sih skrg gk bisa minum kopi, tubuh menolak. Tapi dulu waktu kecil, kopi bubuk kapal api dicampur gula selalu menemani hari-hari indah masa kecil :D ..

Semoga yang resign segera kembali, atau ada penggantinya, terserah si akang mau milih yg mana hehe..

-Traveler Paruh Waktu

Balas

Biar hidup lebih jelas tujuan dan arahnya mas hehe

Balas

Udah kendur mah di hui-an heula weh mang wkwkwk
Hui panas + kopi panas,komo ditambah hujan mah mantap!

Balas

Lagi berusaha stop smoking nih, doanya mbak ^-^

Balas

Ndak bisa mikir kalau nggak ada kopi hahaha

Wah amin amin banget nih, semoga segera dipertemukan,doanya mas^-^

Balas

Komentar Anda adalah tanggapan pribadi, kami berhak menghapus komentar yang mengandung kata-kata pelecehan, intimidasi, dan SARA. Terima kasih.

Advertiser