Nursepreneur : Alasan Kenapa Perawat Harus Mempelajarinya

Saya kira temen-temen perawat disini sudah sangat faham tentang apa itu nursepreneur. Sehingga melalui tulisan ini saya tidak akan menyampaikan apa itu nursepreneur secara konseptual, melainkan mari kita dalami dan selami apa sesungguhnya arti nursepreneur bagi seorang perawat.

Kenapa? Karena masih banyak diantara kita yang menganggap bahwa kewirausahaan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan ilmu keperawatan.

"Kak, kenapa sebagai seorang perawat kita harus belajar kewirausahaan? Kita kan mau jadi perawat, bukan pengusaha!" Tanya salah seorang mahasiswa yang kebetulan beberapa waktu lalu saya sempat menjadi dosen tamu nursepreneur dadakan di salah satu akademi keperawatan di negeri ini.

Nerslicious
Jeruk makan jeruk!

Sedikit cerita, sebelum saya menjawab pertanyaan mahasiswa tersebut diatas, saya jadi teringat beberapa tahun kebelakang, waktu untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan dunia Nursepreneur di bangku perkuliahan. Salah seorang teman saya bertanya tentang kenapa perawat harus belajar kewirausahaan. Lantas dosen saya waktu itu, Ir. Diding Kelana, M.Mkes menjelaskan bahwa entrepreneur atau wirausaha secara konseptual termasuk kedalam pengembangan karir dari peran dan fungsi perawat. Jadi perawat harus mempelajari hal tersebut.

Lebih jauh beliau menjelaskan tentang hal tersebut. Namun intinya adalah bahwa perawat tidak harus selalu berada di pelayanan kesehatan. Lebih dari itu, perawat juga bisa menciptakan pekerjaannya sendiri melalui jalan entrepreneur yang mana selanjutnya para pelakunya disebut Nursepreneur atau EntrepreNurse, yaitu seorang perawat pengusaha. Itu adalah jalan fikiran saya pada waktu itu.

Namun seiring berjalannya waktu, saya menemukan bahwa ada keterikatan tertentu antara Nursepreneur dan asuhan keperawatan yang kita lakukan sebagai seorang perawat. Keterikatan yang semakin menjelaskan kenapa perawat disebut sebagai a multi-talented profession. Karena dengan menjadi seorang perawat, kita dituntut untuk bisa memenuhi segala kebutuhan klien dari A sampai Z, dari kebutuhan biologis sampai kebutuhan spiritual.

Oleh karena itu, saya bilang perawat itu serakah. Berbagai ilmu harus ia fahami. Berbagai keterampilan harus ia kuasai. Termasuk ilmu dan keterampilan ekonomi yang mana hal ini sangat berkaitan dengan pokok bahasan kita yaitu Nursepreneur.

Contoh sederhana yang mana seringkali saya perdebatkan dengan dosen dan juga teman-teman kampus yaitu apa yang harus dilakukan jika seorang perawat sedang melakukan asuhan keperawatan pada seorang pasien dengan ;

Ekonomi lemah, diagnosa diabetes, pekerjaan menarik becak, anak-anaknya menjadi pengamen, kontrakan sudah jatuh tempo, listrik belum dibayar dan sebagainya. Apa yang harus seorang perawat lakukan?

Dalam hal ini, mau tidak mau seorang perawat harus bisa membantu pasien tersebut untuk mengatasi penyakitnya, memodifikasi perilakunya, serta membantu keadaan finansialnya.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, kenapa perawat juga harus mengurusi urusan finansial pasien? Perawat kan bukan ahli ekonomi?

Mari kita lihat bahwa Virginia Henderson dalam Potter and Perry, 1997, menyatakan bahwa setidaknya ada 14 komponen kebutuhan dasar manusia yang harus ditangani oleh seorang perawat ;

Nerslicious
  1. Breath normally (bernapas dengan normal)
  2. Eat and drink adequately (kebutuhan makan dan minum yang adekuat)
  3. Eliminate body wastes (kebutuhan eliminasi)
  4. Move and maintain desirable postures (kebutuhan bergerak dan dapat mempertahankan postur tubuh dengan baik
  5. Sleep and rest (kebutuhan tidur dan beristirahat)
  6. Select suitable clothes; dress and undress (kebutuhan berpakaian)
  7. Maintain body temperature within a normal range by adjusting clothing and modifying the environment (mempertahankan suhu tubuh dalam kisaran normal, dengan menyesuaikan pakaian dan memodifikasi lingkungan)
  8. Keep the body clean and well groomed and protect the integument (menjaga tubuh tetap bersih dan melindungi kulit)
  9. Avoid dangers in the environment and avoid injuring others (menghindari bahaya lingkungan dan menghindari cedera orang lain)
  10. Communicate with others in expressing emotions, needs, fears, or opinions (Berkomunikasi dengan orang lain untuk mengungkapkan perasaan emosi, kebutuhan, ketakutan atau pendapat)
  11. Worship according to ones’s faith (mempercayai keimanan/ketuhanan)
  12. Work in such a way that there is a sense of accomplishment (Kebutuhan akan pekerjaan dan penghargaan)
  13. Play or participate in various forms of recreation (kebutuhan akan hiburan atau rekreasi)
  14. Learn, discover, or satisfy the curiosity that leads to normal development and health and use the available health facilities (Belajar, menemukan atau memuaskan rasa ingin tahu dan dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada.)

Yang harus digaris bawahi adalah kebutuhan nomor 2 diatas yaitu : Eat and drink adequately (kebutuhan makan dan minum yang adekuat).

Pertanyaannya, dengan keadaan pasien yang saya sebutkan diatas, bisakah pasien tersebut memenuhi kebutuhan makan dan minum yang adekuat? Jika tidak, haruskah seorang perawat mengabaikan permasalahan tersebut sedangkan Virginia Henderson dengan jelas mengatakan: 

Fungsi unik dari perawat adalah membantu individu baik sehat maupun sakit dalam melaksanakan kegiatan yang menunjang kesehatan serta penyembuhan atau membimbing klien agar meninggal dunia dengan tenang.  Segala yang dilakukan perawat adalah untuk membantu meningkatkan dan menumbuhkan kemauan, kekuatan dan pengetahuan agar tidak bergantung pada bantuan orang lain.

Kita tidak bisa menutup mata dan memungkiri hal tersebut. Inilah kenapa saya bilang perawat itu serakah. Dan demi untuk mengatasi masalah tersebut, tidak ada satupun mata kuliah yang relevan kecuali mata kuliah Entrepreneur.

Permasalahannya adalah, mahasiswa keperawatan seringkali menutup mata akan hal ini. Seolah mata kuliah Entrepreneur hanyalah “bumbu pemanis”saja di dunia keperawatan. 

Yang lebih parah adalah, adanya anggapan bahwa mata kuliah Entrepreneur sebenarnya tidak harus dipelajari di sekolah keperawatan karena kita ingin jadi perawat, bukan pengusaha.

Anggapan ini mungkin benar adanya. Tapi pernahkah kita berfikir bahwa dengan menguasai setidaknya tahu sedikit-sedikit tentang dunia Entrepreneur, kita bisa membantu permasalahan pasien secara paripurna, sebagaimana contoh kasus yang saya sebutkan diatas. 

Kita mungkin tidak akan bisa membantu urusan finansial pasien tersebut secara full, namun setidaknya kita akan mampu memberikan yang terbaik dari diri kita demi untuk kesembuhan pasien tersebut.

Ini akan terdengar sangat idealis. Tapi ternyata, bukan hanya saya yang mempunyai fikiran seperti ini. Bapak Iyus Yosep, pemilik Nursing Building & Dormitories melalui tulisannya yang berjudul : Nursing Entrepreneur, mengatakan bahwa ;

Suasana emosional perawat akan mempengaruhi suasana emosional klien. Suasana emosional klien akan mempengaruhi kekebalan tubuhnya. Kekebalan tubuh akan mempengaruhi penyembuhannya. Suasana emosional perawat dapat terpengaruh oleh kondisi keuangan perawat. Perawat-perawat yang kurang cerdas secara finansial cenderung lebih emosional, reaktif dan menyalahkan lingkungan. Ciri-ciri perawat ini adalah kebutuhan dasarnya sendiri belum terpenuhi secara optimal, tidak punya tabungan, tidak adanya asset yang dimiliki, sering bertengkar tentang masalah-masalah kecil yang sebenarnya mempertengkarkan gaji, honor, komisi atau sejenisnya. Akibatnya energinya akan ditransfer pada lingkungan dan pada kliennya.

Inilah yang saya maksud, dan kenapa saya mengajak teman-teman semua muter-muter tidak langsung pada intinya adalah karena saya mau teman-teman semua faham mengapa perawat harus belajar mengenai Entrepreneur.

Entrepreneur bukanlah hanya bumbu pemanis, bukan pula hanya sebuah solusi rendahnya “nilai jual” kita di negeri ini. Tapi lebih dari itu, Entrepreneur adalah jembatan agar kita mampu sejahtera secara finansial disamping agar mampu memberikan pelayanan yang paripurna terhadap pasien.

Sehingga, tidak akan ada lagi perawat yang “katanya” judes, tidak akan ada lagi perawat yang “katanya” mengabaikan pasien dan tidur nyenyak ketika jam kerja, serta tidak akan ada lagi perawat yang “katanya” dimaki-maki oleh pasien atau keluarga pasien. 

Nerslicious
Ilustrasi perawat judes
Kenapa? Karena perawat yang cerdas secara finansial, akan mampu membuatnya sejahtera secara finansial. Dan jika perawat sudah sejahtera secara finansial, maka kebutuhan fisiologisnya akan terpenuhi. Ia akan aman dan merasa nyaman menjadi perawat. Memiliki rasa cinta dan memiliki akan profesi yang telah membesarkannya dan dihargai oleh orang lain. 

Lantas, hal terakhir hanyalah tinggal meng-aktualisasikan diri. Dan sebagai perawat, Ia akan mengabdikan dirinya membantu orang lain sesuai keinginan dan panggilan jiwanya.

Materialistis? Ya, tapi justru inilah yang selama ini kita perjuangkan. Kesejahteraan perawat. Dan kabar baiknya, hari demi hari, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, selalu bermunculan aktivis-aktivis Nursepreneur yang menggiatkan dan menggalakkan program ini demi keperawatan yang lebih baik, lebih maju dan lebih sejahtera.

Kita bisa lihat sosok Iyus Yosep, founder dan owner Nursing Building & Dormitories. Budhi Purwanto, owner dan founder Budinersalindo Institute yang mana merupakan pelopor produk herbal keperawatan (kita mengenalnya sebagai keperawatan komplementer). 

Dari generasi muda ada sosok Tirta Riawan, Founder PT Indonesian Health Center yang mana pada tahun 2014 saya sendiri pernah bergabung dengannya – hanya beberapa bulan kemudian out - , Kang Tirta merintis usaha hingga saat ini telah berbentuk perseroan terbatas dengan beberapa tim creative yang dibentuknya.

Atau kita bisa juga lihat seorang Aris Nur Ramdani, lulusan terbaik UI yang setelah lulus menerbitkan buku saku keperawatan best seller dengan ribuan eksemplar buku yang terjual habis hanya dalam kurun waktu beberapa bulan. 

Nerslicious
Buku Saku Praktik Klinik Keperawatan - Ns. Aris Nur Ramdhani, S.Kep et all
That’s the power of being a Nursepreneur. Teman-teman bisa merintis usaha sekaligus personal-branding, dikenal banyak orang sehingga mudah membangun silaturahmi atau link, dan jika teman-teman mempunyai banyak link (kenalan) maka akan mudah juga mendapatkan pekerjaan. Setidaknya itu yang saya rasakan dan saya alami selama ini.

So, what does it mean for being a Nursepreneur? Untuk saya, it means everything. Saya bisa punya banyak kenalan, bisa dikenal orang, bisa cepat bekerja di salah satu rumah sakit pusat di Bandung tanpa harus bersusah payah, bisa menjalin banyak kerjasama, dan masih banyak lagi hal-hal lainnya yang mungkin jika dituliskan disini akan sangat panjang. 

Lebih dari itu, saya lebih senang jika teman-teman sendiri yang merasakan bagaimana nikmatnya menjadi seorang Nursepreneur. Bagaimana caranya? Lanjutkan membaca karena di chapter-chapter selanjutnya saya akan memberikan cara termudah untuk menjadi seorang Nursepreneur sedari di bangku perkuliahan. 

So, setelah memahami akan pentingnya Entrepreneur bagi seorang perawat, lantas, mari kembali lagi ke judul sub chapter ini, Apa yang dimaksud dengan Nursepreneur?

Menurut saya, Nursepreneur ( Perawat Pengusaha ) adalah seorang perawat yang terjun kedunia bisnis yang berorientasi pada problem-solving business dalam dunia keperawatan dalam rangka mencari keuntungan finansial.

Inilah yang pada akhirnya akan menjawab pertanyaan tentang perbedaan entrepreneur dengan usaha biasa seperti buka warung, warnet, dagang ini itu dan lain sebagainya.

Entrepreneur lebih berorientasi pada pemecahan masalah yang ada di lingkungan sekitar. Semisal, tidak adanya tempat sampah yang efektif untuk membuang spuit bekas, maka seseorang yang mempunyai jiwa Entrepreneur pasti akan berfikir bagaimana menyelesaikan masalah tersebut. Sehingga munculah produk yang dinamakan Safety Box.

Atau contoh yang lebih konkrit. Dulu waktu masih menjadi mahasiswa, saya menemukan tidak adanya buku-buku pelajaran dari dosen. Yang ada hanya hand-out yang kadang kala berceceran dimana-mana. Sehingga ketika hendak ujian, terkadang kita lupa dimana menyimpan ¬kumpulan hand-out tersebut.

Akhirnya, saya mengajak beberapa teman dan juga dosen untuk membuat buku mata kuliah. Idenya simple, hanya mengumpulkan ¬hand-out, lantas mengetiknya lagi dan dibuat buku. Menghasilkan? Ya, karena saya kerjasama dengan dosen, jadi bukunya “dijual paksa”. Semua mahasiswa harus beli. Kan lumayan. Itulah yang saya maksud dengan problem-solving oriented.

Nerslicious
2 buah buku CV Creative Nursing Persada (Creative@21 Team)
Nah berbeda dengan usaha biasa yang lebih berorientasi pada keuntungan semata. Semisal, menjelang hari raya idul fitri, orang-orang sibuk mencari lahan usaha seperti jualan baju, sandal, sepatu dan lain sebagainya. 

Memang benar, sisi pemecahan masalahnya ada. Orang-orang butuh baju (Problem), kita yang jualan baju (Solving). Namun orientasi pertamanya bukanlah itu, melainkan keuntungan.

Sehingga jika disimpulkan, tidak setiap pengusaha adalah seorang entrepreneur, tetapi setiap entrepreneur sudah pasti seorang pengusaha. So, siap untuk menjadi seorang Nursepreneur? 

2 komentar

Semoga sukses utk menjadi nursepreneur. Semangaaaaat!

Mari sama-sama sukses mas adi! Semangaat!!!