Perawat Tidak Harus Diam Di Rumah Sakit!

Perawat Tidak Harus Diam Di Rumah Sakit!

Perawat Tidak Harus Diam Di Rumah Sakit!


Perawat Tidak Harus Diam di Rumah Sakit

Dari sejarahnya, hanya segelintir dari sekian ribu bahkan ratusan ribu perawat yang sukses menjalani hidup sebagai perawat.

Sisanya,hanya bertahan menunggu takdir mengubah kehidupan mereka.

Tolong jangan hakimi saya.

Di zaman milenial seperti ini, dimana hoax merajalela, sangat mudah sekali tergusur oleh informasi yang terihat benar, namun menjijikan jika ditengok lebih dalam.

Oleh karenanya, jangan hakimi saya atas pernyataan diatas. Tapi marilah kita tanya diri kita masing-masing sambil melihat data dibawah ini;

Data Distribusi Perawat Indonesia Berdasarkan Data Rekapitulasi Tahun 2016 - Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI


Ada lebih dari 290 ribu perawat di Indonesia, ratusan ribu lainnya masih menunggu untuk lulus dari bangku perkuliahan dan siap untuk ikut menambah jumlah tersebut.

Belum lagi jumlah lowongan kerja keperawatan per-tahunnya yang belum maksimal jika tidak mau dikatakan tidak cukup.

Seperti kata Bang Destur Purnama Jati di blog Senyum Perawat-nya;
Masih ada lulusan tenaga perawat yang mencapai 28.000 orang per tahunnya belum mendapatkan pekerjaan atau menganggur.

Yang mana berarti, 28 ribu rekan sejawat kita hanya menjadi pengangguran setiap tahunnya.

Belum lagi masalah STR, SIP, SIPP, dan hal-hal lainnya yang seakan belum puas menggerogoti profesi ini dari dalam.

Banyak dari kita yang bermimpi untuk menjadi perawat yang sukses.

Gelar mentereng, mengajar disana-sini, jadi pembicara di berbagai seminar, gaji selangit, kerja di LN, dan masih banyak lagi.

Yang terakhir - kerja di LN - sepertinya bisa menjadi solusi.

Banyak yang menggembar-gemborkan untuk kerja di LN, tapi nyatanya?

Berdasarkan data rekapitulasi PPNI sampai April 2017, hanya 0,18% atau tepatnya 652 orang dari perawat Indonesia yang mampu dan mau untuk bekerja di LN.

Sisanya kemana? Entahlah.

Tapi yang jelas, daya saing perawat kita masih lemah. Baik dalam hal skill, terutama kendala bahasa dan budaya.

Seperti saya bilang diatas, hanya segelintir dari kita yang mampu mencapai hal tersebut.

Kebanyakan, hanya mengeluh, dan demo disana-sini dampak dari hanya mengandalkan logika tanpa adanya suplai logistik yang memadai.

Saya termasuk salah satunya.

Setidaknya,begitulah saya sebelum akhirnya memutuskan untuk resign 5 bulan yang lalu.

Jika belum tahu cerita resign saya, silahkan baca Let's #Dare2DreamBIG : Ketika Mimpi Menguasai Diri

Sekarang, setelah resign dengan proses yang amat sangat panjang, saya menikmati hidup saya sekarang.

Saya perawat, dan saya juga seorang organisator
Saya perawat, dan saya juga seorang writer
Saya perawat, dan saya juga seorang graphic designer
Saya perawat, dan saya juga seorang Homecare Assessor
Saya perawat, dan saya juga seorang Entrepreneur
Saya perawat, dan saya juga seorang CSR Provider
Saya perawat, dan saya juga seorang Marketer
Saya perawat, dan saya juga seorang Trainer
Saya perawat,dan saya juga seorang start-up Founder

Saya perawat, dan saat ini saya sedang membangun sebuah yayasan keperawatan untuk mengakomodir dan membangun semua mimpi-mimpi saya.

Karena saya, #Dare2DreamBIG!

Saya bosan mengeluh tanpa solusi
Saya bosan membohongi diri sendiri
Dan saya bosan, membangun mimpi orang lain

Oleh karenanya, saya resign karena saya ingin membangun mimpi saya sendiri yang entah akan seperti apa jadinya.

Tapi satu hal, saya selalu meyakini akan adanya progress dari sebuah proses!

Pertanyaannya, beranikah untuk bermimpi besar?

Ini adalah artikel seri kedua dari laman #Dare2DreamBIG. Dalam seri berikutnya, saya akan bercerita lebih detail mengenai yayasan keperawatan yang sedang saya bangun beserta progress yang telah saya capai.

So semoga ada sesuatu yang bisa kalian ambil dari artikel ini. Saya Nugraha Fauzi, let's #Dare2DreamBIG!

***

Kredit gambar utama : http://todaymiddleware.mims.com
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

1 komentar

Good luck with your dream! Saya juga lulusan perawat tp memilih berkarir di bidang lain. Hehehe

Balas

Komentar Anda adalah tanggapan pribadi, kami berhak menghapus komentar yang mengandung kata-kata pelecehan, intimidasi, dan SARA. Terima kasih.

Advertiser