Tiba di Jakarta - Belajar Membuat Novel #1 - Nerslicious

Tiba di Jakarta - Belajar Membuat Novel #1

Belajar Membuat Novel #1

Jadi ini adalah salah satu dari perwujudan resolusi untuk lebih mendalami dunia literasi di tahun 2018.  Menulis novel.

Ya. Jadi ceritanya, sedari kuliah saya sudah punya keinginan untuk mempunyai novel sendiri. Tujuannya sih sederhana. Ingin lebih mengedukasi masyarakat tentang perawat melalui novel.

Kenapa?

Jujur, saya penikmat film-film bertema medis atau kedokteran seperti Doctor X, Team Medical Dragon : Iryu, Doctor Strangers, termasuk film korea yang begitu hits beberapa bulan ke belakanga : Descendants of The Sun.

Selain itu, saya juga penggemar berat Habiburrahman El Shirazy, Asma Nadia dan juga Andrea Hirata. Novel-novel mereka begitu membekas bagi saya. Habiburrahman dengan setting timur tengahnya, Asma Nadia dengan nuansa islami kentalnya, dan juga kecerdasan Andrea Hirata dalam menyusun diksi ilmiahnya membuat saya mengagumi karya-karya fenomenal mereka.

Pertanyaannya, bagaimana jika saya membuat novel gabungan ketiganya ditambah dengan setting profesi perawat?

Itu sih target yang muluk-muluk ya. Namun setidaknya, itulah impian saya. Membuat sebuah novel dengan mengangkat profesi perawat, bersetting seperti Habiburrahman dengan nuansa islami ala Asma Nadia ditambah kecerdasan diksi dari Andrea Hirata. Mungkinkah?

Jika tidak dicoba, siapa tahu. Ya kan?

Setelah browsing sana-sini, bertanya kesana kemari, setidaknya untuk proses awal penulisan novel ada dua tahap. Yakni tahap pra penulisan dan penyusunan kerangka novel.

Untuk tahap Pra Penulisan, disini kita harus mempunyai ide cerita dan tema cerita. Dan seperti yang saya katakan diawal, ide dan tema ceritanya yaitu tentang cinta dengan mengangkat profesi perawat, bersetting seperti Habiburrahman dengan nuansa islami ala Asma Nadia ditambah kecerdasan diksi dari Andrea Hirata. #Kebablasan

Untuk tahap Penyusunan Kerangka Novel, disini ada beberapa hal yang harus dipersiapkan atau dipelajari, diantaranya ;
  1. Karakter / Penokohan : Disini kita harus menciptakan karakter yang unik yang bisa membuat pembaca penasaran. Disebutkan juga untuk menulis secara detail mulai dari nama, jenis kelamin, ciri fisik, kepribadian, kebiasaan, hobi, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan karakter tokoh dalam novel.
  2. Sudut Pandang : Bisa orang pertama, orang kedua ataupun ketiga. Disini saya menggunakan orang ketiga atau serba tahu. 
  3. Alur /Plot Cerita : Ada 3 plot dasar dalam sebuah cerita, yaitu Plot Maju, Plot Mundur, dan Plot Gabungan keduanya.
  4. Konflik dan Ending : Hidup tanpa konflik bagai sayur tanpa garam. Bisa berupa percikan kecil yang membesar lalu memuncak, atau konflik yang besar dengan penyelesaian. Namun yang pasti, hindari konflik yang dipaksakan dan buatlah senatural mungkin. Katanya.

Nah setelah menyusun kerangka novel, langkah selanjutnya adalah Proses Menulis Novel. Sebuah langkah yang pada akhirnya akan menentukan apakah akan berhenti sampai tahap ini atau lanjut ke tahap selanjutnya.

Biarlah waktu yang menjawabnya. Karena setelah novel beres ditulis, masih ada 4 tahap lagi yang meliputi tahap Drafting, Editing dan Proofreading. Masih panjang!

It easier said than done, right? Masih banyak yang harus saya pelajari. Targetnya 2019 rampung. Semoga bisa tercapai.

Dan setelah satu tahun yang lalu - tepatnya Desember 2017 - saya menyelesaikan tahap Pra Penulisan, kemarin coba-coba nulis bagian pertama. And here I go! Mohon masukan dan kritikannya ya. Masih jauh dari harapan, namun ini lah langkah pertama saya.  


Tiba di Jakarta

 
Derasnya hujan disertai dengan sambaran petir yang memekakan telinga pagi itu terus saja turun, lalu lalang orang, mobil pengantar yang datang dan pergi, belum lagi yang menjemput sanak saudara atau penumpang, serta awan hitam menghiasi kedatangan Pram pagi itu di Jakarta.

Sebuah kota metropolitan yang telah Ia tinggalkan 5 tahun lalu. Sebuah kota kenangan dimana 5 tahun lalu Ia memutuskan untuk pergi dan mengubur semua kenangan bersama Sarah, kekasihnya, yang memutuskan untuk meninggalkannya.

Masih terngiang jelas apa yang dikatakan Sarah 5 tahun yang lalu. Disebuah kedai kopi, dalam derasnya hujan dan sambaran petir seperti sekarang ini.

"Pram, aku harus pergi. Maaf, aku sudah lelah. Lebih baik kita putus."

Pram sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang telah bersamanya selama 3 tahun itu akan mengatakan hal tersebut tepat di hari ulang tahunnya yang ke 21 tahun. Dalam bingungnya, Ia hendak tertawa. Namun ketika melihat mata kekasih yang begitu sangat Ia sayangi, Pram sadar, bahwa apa yang dikatakannya adalah sebuah ketulusan. Bukan sebuah candaan kejutan dihari ulang tahun.

Ia menggigit bibirnya sendiri menahan tangis. Darah mengalir membasahi dagu bulatnya.

"Baiklah."

Hanya itu yang mampu dikatakannya. Ia merasa tidak perlu lagi menanyakan apapun. Petir dan hujan masih saja bersahutan. Ia masih mencoba menahan tangisnya.

"Tak seharusnya Aku cengeng begini, apalagi di hadapan gadis secantik dirimu, mari kuantar kau pulang." Ujarnya sambil tersenyum. Seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka dua. Tanpa menunggu jawaban, Pram langsung pergi menuju parkiran mobil sambil menyeka air matanya.

"Ah ... aku tak tahu bagaimana kabarnya sekarang." Ia berkata sendiri sambil menghembuskan nafas yang terasa begitu berat.

Hujan masih saja mengguyur Jakarta pagi itu. Pram melihat jam tangannya. 07.15 WIB. Tapi jemputannya masih belum kelihatan. Ia mengambil handphone disaku kardigan merah yang Ia kenakan. Namun belum sempat Ia menarik keluar handphone nya, teriakan suara minta tolong dari arah belakang membuat insting menolongnya berespon cepat.

Pram menghampiri arah datangnya suara tersebut. Seorang lelaki paruh baya terlihat terlentang di lantai bandara sambil memegangi dadanya. Pram bertindak cepat.

"Pak bangun pak!" Ujarnya sambil menepuk-nepuk bahu orang tersebut. Tidak ada respon sama sekali. Kemudian, dengan tangan kanan terkepal, Ia menggoyang-goyang bagian tengah lelaki tersebut.

Tetap tidak ada respon.

"Siapa anda? Apa yang anda lakukan terhadap suami saya?" Seorang wanita paruh baya yang ternyata adalah istri dari lelaki yang sedang Ia tolong mendorong Pram hingga Ia tersungkur ke lantai bandara.

Pram kembali mendekati lelaki yang sedang tidak sadar tersebut. Ia mengatakan bahwa Ia adalah seorang perawat. Si Wanita maklum dan membiarkan orang yang baru saja Ia dorong menolong suaminya.

"Lebih baik Ibu mencari satpam." Ujar Pram sambil memposisikan dua jari tangan kanannya di leher kanan pasien. Nadinya tidak teraba.

"Bismillahirrahmnirrahim ..." Pram berkata pelan dan mengambil posisi untuk bersiap melakukan resusitasi jantung paru.

Beberapa saat kemudian petugas medis bandara datang dengan membawa perlengkapan P3K dan juga tandu. Mereka menanyakan siapa Pram dan apa yang telah dilakukannya. Pram menjelaskan semuanya, termasuk kondisi lelaki paruh baya yang telah ditolongnya. Ia juga menjelaskan bahwa Ia adalah seorang Perawat Teregistrasi sambil menunjukan kartu ID sertifikasi ATCLS (Advanced trauma and Cardiac Life Support) yang didapatkannya satu tahun yang lalu.

Namun tetap saja pihak keamanan bandara ingin menahannya sampai kondisi pasien dapat diketahui dengan jelas.

"Maaf pak, kami hanya menjalankan prosedur. Silahkan ikut kami." Ujar lelaki berbadan kekar dengan seragam satpam dihadapannya. Ia terpaksa mengikuti kemauan mereka.

Sementara itu, jauh di sebelah timur Jakarta, tepatnya di Kota Sumedang, sebuah akad suci sedang berlangsung.  Sebuah akad yang akan membuka lembaran-lembaran baru kehidupan.  Sebuah akad yang menandai tanda dimulainya babak baru sebuah kehidupan.

Sang pengantin pria tampak begitu gagah dengan balutan jas hitam berdasinya. Pun dengan sang pengantin wanita yang begitu anggun dengan gaun putihnya.

"Saya terima nikah dan kawinnya Sarah Anggun Nugraha binti Agus Wiraharja dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

"Sah?"

"Saaahhh! Ujar kedua saksi diikuti dengan ucapan hamdalah dari kedua keluarga yang menyaksikan akad suci tersebut.

Pagi itu, sebuah janji suci terucap dari dua orang insan berlainan jenis dalam balutan hubungan suci bernama pernikahan. Sebuah janji sehidup semati, saling melengkapi dan percaya satu sama lain dalam membina bahtera rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Burung-burung berterbangan kesana kemari, tiupan angin juga membuat pohon-pohon disekitaran KUA melambai-lambai kian kemari. Gelak tawa dan senyum bahagia terdengar saling bersahutan di halaman depan KUA. Seolah semesta tahu bahwa dua orang insan sedang berbahagia di hari itu.

Sementara itu, Pram masih duduk di kursi kantor satpam bandara Soekarno-Hatta. Kartu identitasnya, termasuk KTP, Kartu ID ATCLS dan tentu saja pasport sedang diteliti oleh petugas keamanan.

"Jadi, anda seorang perawat?" Tanya salah seorang petugas kemanan didepannya. Wajahnya sama sekali tidak menunjukan keramahan.

Belum sempat Pram menjawab, tiba-tiba seorang wanita berjas putih khas dokter masuk ke kantor tersebut. Mata Pram dan gadis itu bertemu. Pram mengernyitkan kening. Sebuah wajah yang tidak asing baginya. Pram mencoba mengingat-ingat siapa kiranya gadis dihadapannya. Namun tetap saja Ia tidak mengingatnya.

Akhirnya Pram hanya tersenyum.

"5 tahun kau menghilang, kini malah ditahan petugas bandara, dan kau tidak menyapaku sama sekali? Kau keterlaluan Pram!" Ujar gadis berjas putih sambil menyodorkan sebuah kertas besar berisi garis dan kotak-kotak kecil kepada Pram.

"Itu hasil EKG pasien yang barusan kau tolong. Ia selamat dan sekarang sedang dibawa ke Rumah Sakit. Oh iya, istri pasien juga menitipkan kertas ini untukmu." Gadis berjas putih kembali menyodorkan secarik kertas kepada Pram.

Tanpa membalas ocehan di Gadis, Pram melihat kertas besar berisi garis dan kotakyang disodorkan kepadanya.

"Upsloping depresi ST segmen lebih dari 1 mm, pasien memegang dada ketika ditemukan, pucat berkeringat dengan bising usus meningkat bisa dipastikan pasien dalam keadaan hipoglikemia. " Ujar Pram perlahan. Pram masih memperhatikan kertas hasil pemeriksaan EKG lelaki yang tadi ditolongnya. Kembali jemarinya mengikuti gelombang garis yang ada di hadapannya.

"Iskemia Jantung."

"Ya, iskemia jantung! Wah-wah 5 tahun di Filipina ternyata ilmu mu boleh juga Pram!" Si gadis kembali menyebut nama Pram.

"Anda ...." Pram kembali mengernyitkan kening, mencoba mengingat-ingat wajah gadis dihadapannya.

"Indah? Anda Indah Estetika?" Pram baru ingat bahwa gadis dihadapannya adalah Indah, teman satu SMA waktu di Sumedang 7 tahun yang lalu.

"Walah sekarang sudah jadi dokter toh?" Pram menjabat tangan gadis dihadapannya, si gadis tersenyum lalu mengajak Pram untuk minum kopi di kantin bandara, sekalian reuni, katanya.

"Eh, jadi saya sudah bebas ini pak?"Ujar Pram kepada petugas bandara.

"Sudah Pram, saya yang tanggung jawab. Iya kan Pak?" Ujar si gadis yang bernama Indah pada petugas keamanan bandara.

Tanpa menunggu jawaban petugas keamanan, Indah meraih tangan Pram dan membawanya keluar ruangan. Tujuan mereka adalah kantin bandara. Tujuh tahun berpisah, kini dua sahabat lama kembali dipertemukan.

***

Jadi bagaimana? Siapa Sarah Anggun Nugraha? Mantan pacarnya si Pram atau siapa? Lantas, apa pula hubungan Pram dengan Indah? Saksikan kelanjutan cerita mereka hanya di bioskop-bioskop kesayangan anda! Hahaha

Biar kayak di film-film.

Judulnya saya belum tahu. Belum kepikiran juga. Tadinya mau "Livor Mortis", tapi ternyata sudah ada yang buat mbak Deasylawati P. Jadinya ya nyari lagi judul yang pas.

Menurut saya pribadi, ini terlalu mainstream ceritanya. Saya juga kurang begitu suka. Tapi apa daya, yang terlintas dipikiran tentang cinta mulu!

Yo wis rapopo, ini versi beta. Belum fix. Ditunggu komentar dan masukannya ya!

6 Responses to "Tiba di Jakarta - Belajar Membuat Novel #1"

  1. Wah hebat udah kepikiran bikin novel. Kalay saya, karena baru belajar menulisnya dan ngeblognya. Jadi belum kepikiran bkin novel. Tapi kepikiran bikin cerita hidup sendiri udah hee. Semoga resolusi kamu untuk bkin novel tercapai ya ��

    BalasHapus
  2. Amin. Semoga 2019 novel nya sudah rampung. Aku pribadi penggemar andrea hirata, dan masih menunggu karya karya nya selanjutnya

    BalasHapus
  3. Semoga terwujud mas fauzi, saya sendiri sudah ada naskah namun belum berani ngajuin ke penrbit
    sudah 2 tahun saya simpen di laptop saya hahaha

    BalasHapus
  4. Tak doain yoo semoga cepet terwujud keinginan mas Fauzi... #Fighting ��

    BalasHapus
  5. menarik..

    dulupun saya ada hati nak buat novel.

    kalau boleh novel cinta

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel